oleh

Kabar Terbaru- Teladan Makalah Ancaman Narkoba Dan Generasi Mudah

Contoh Makalah Bahaya Narkoba Dan Generasi Mudah – Memang banyak sekali untuk tahun ini para pemudah dan pemudi melaksanakan yang sangat sangat salah lantaran pergaulan mereka lakukan sehingga narkoba meracuni diri mereka, dan alkasih banyak sekali cowok kini ini kecenderungan menggunakan narkoba.

Meskipun banyak sekali gembong narkoba diringkus tetapi masi ada saja yang masuk hingga meracuni para pemudah dan pemudi dikala ini. Untuk itulah maka, kami akan sampikan disini untuk anda semua yang ingin sekali mengetahui makalah ancaman narkoba ini.

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa lantaran berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis sanggup menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas perihal remaja dan ancaman narkoba.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan kendala akan tetapi dengan proteksi dari banyak sekali pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat jawaban yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini sanggup menawarkan manfaat kepada kita sekalian.

Kendari, November 2013

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I    PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang 1
B.    Permasalahan 3
C.    Tujuan 3
BAB II    KAJIAN PUSTAKA
A.    Generasi Muda 3
B.    Generasi Muda dan Identitas 4
C.    Narkoba 6
D.    Zat Aditif Lainnya 8
BAB III    PEMBAHASAN
A.    Hubungan Generasi Muda dan Narkoba 12
B.    Bahaya Narkoba Pada Generasi Muda 12
C.    Cara Penanggulangan Narkoba pada Generasi Muda 16
BAB IV    PENUTUP
A.    Kesimpulan 20
B.    Saran 21

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Generasi muda yakni tulang punggung Bangsa dan Negara merupakan istilah yang sering kita dengar sehari-hari. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial dikala ini memerlukan panutan dan pola yang sanggup membawa masyarakat kita ke arah yang lebih baik. Terlebih lagi di kala reformasi ini, generasi muda dituntut untuk lebih berpartisipasi dalam membangun masyarakat Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui, generasi muda yakni tonggak keberlangsungan masa depan Indonesia. Mereka yakni harapan kita, sinar matahari yang akan menawarkan warna bagi masa masa depan bangsa. Oleh lantaran itu, menjaga mereka biar tidak terpengaruh oleh ancaman Narkoba yakni kewajiban semua pihak.

Hasil survei mengambarkan bahwa mereka yang beresiko terjerumus dalam masalah narkoba yakni anak yang terlahir dari keluarga yang mempunyai sejarah kekerasan dalam rumah tangga, dibesarkan dari keluarga yang broken home atau mempunyai masalah perceraian, sedang stres atau depresi, mempunyai pribadi yang tidak stabil atau gampang terpengaruh, merasa tidak mempunyai sahabat atau salah dalam pergaulan. Dengan alasan tadi maka perlu pembekalan bagi para orang bau tanah biar mereka sanggup turut serta mencegah anaknya terlibat penyalahgunaan narkoba.

Dampak dari penyalahgunaan narkoba sudah terbukti pada generasi kita. Dapat terlihat kerusakan fisik seperti: otak, jantung, paru-paru, saraf-saraf, selain juga gangguan mental, emosional dan spiritual, akhir lebih lanjut yakni daya tahan tubuh lemah, virus gampang masuk mirip virus Hepatitis C, virus HIV/AIDS. Oleh lantaran itu kita tidak akan rela kalau generasi muda kita mengalami penderitaan di atas.

Dalam kurun waktu dua dasa warsa terakhir ini Indonesia telah menjadi salah satu negara yang dijadikan pasar utama dari jaringan sindikat peredaran narkotika yang berdimensi internasional untuk tujuan-tujuan komersial.3 Untuk jaringan peredaran narkotika di negara-negara Asia, Indonesia diperhitungakan sebagai pasar (market-state) yang paling prospektif secara komersial bagi sindikat internasioanl yang beroperasi di negara-negara sedang berkembang.

B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalah yang akan dibahas dalam makalah ini yakni generasi muda dan ancaman narkoba.

C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yakni untuk mengetahui ancaman narkoba terhadap generasi muda.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Generasi Muda
Kegenerasi mudaan merupakan fase dalam pertumbuhan biologis seseorang yang bersifat seketika dan akan hilang dengan sendirinya sejalan dengan aturan biologis. Generasi muda sering dianggap sebagai suatu kelompok yang mempunyai aspirasi sendiri yang bertentangan dengan aspirasi masyarakat atau lebih tepat aspirasi generasi tua. Sehingga muncul persoalan-persoalan yang tidak sejalan dengan keinginan generasi tua, hal ini memunculkan konflik berupa protes, baik secara terbuka maupun terselubung.

Dalam pendekatan klasik terjadi jurang pemisah antara generasi muda dan bau tanah disebabkan antara lain adanya 2 perkiraan pokok mengenai kegenerasi mudaan yaitu:

  1. Proses perkembangan insan dianggap sesuatu yang fragmentaris/ terpecah-pecah. Setiap perkembangan hanya sanggup dimengerti oleh insan itu sendiri, maka tingkah laris anak dan generasi muda dianggap sebagai riak-riak kecil yang tidak berarti dalam perjalanan hidup manusia. Dan masa bau tanah dianggap sebagai mahkota hidup yang disamakan dengan hidup bermasyarakat.
  2. Adanya anggapan bahwa mempunyai pola yang sedikit banyak ditentukan oleh pemikiran yang diwakili generasi bau tanah yang bersembunyi dibalik tradisi. Generasi muda dianggap sebagai objek dari penerapan pola-pola kehidupan dan bukan sebagai subjek yang mempunyai nilai sendiri.

Kedua perkiraan diatas tidak akan menjawab masalah kegenerasi mudaan cukup umur ini lantaran generasi muda dan kegenerasi mudaan yakni suatu tonggak dari suatu wawasan kehidupan yang mempunyai potensi untuk mengisi hidupnya. Dalam pendekatan ekosferis, sebagai subyek generasi muda mempunyai nilai sendiri dalam mendukung dan menggerakkan hidup bersama. Pada pendekatan ini anak-anak, generasi muda dan generasi bau tanah berada dalam status sama atau dalam satu kesatuan wawasan kehidupan. Semua tanggung jawab atas keselamatan, kesejahteraan, kelangsungan generasi kini dan yang akan tiba perbedaannya hanya terletak pada derajat ruang lingkup dan tanggung jawabnya.

Generasi bau tanah berkewajiban membimbing generasi muda sebagai penerus untuk memikul tanggung jawab yang semakin komplek. Generasi muda berkewajiban mempersiapkan diri untuk mengisi posisi generasi bau tanah yang makin melemah.

B. Generasi Muda dan Identitas
Dalam pola dasar training dan pengembangan generasi muda, yang dimaksud generasi muda adalah:

  1. Dari segi biologis generasi muda yakni berumur 15-30 th
  2. Dari segi budaya/ fungsional, generasi muda yakni insan berumur 18/21 keatas yang dianggap sehabis cukup umur contohnya untuk tugas-tugas negara dan hak pilih.
  3. Dari angkatan kerja terdapat istilah tenaga muda dan tua. Tenaga muda yakni berusia 18-22 th.
  4. Dilihat dari perencanaan modern yang mengenal tiga sumber daya yaitu sumber daya alam, dana dan manusia. Yang dimaksud sumber data manuasia muda yakni berusia 0-18th
  5. Dilihat dari ideologi politis generasi muda yakni calon pengganti generasi terdahulu yaitu umur antara 18-30 atau 40 th.

Dalam pola dasar training dan pengembangan generasi muda, generasi muda dipandang dari beberapa aspek yaitu:
1. Sosial psikologi
Proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian, serta adaptasi diri secara jasmaniahdan rohaniah semenjak dari masa kanak-kanak hingga usia cukup umur sanggup dipengaruhi oleh beberapa faktor, mirip keterbelakangan mental, salah asuh orang bau tanah atau guru, pengahur negatif lingkungan. Hambatan tersebut memungkinkan terjadinya kenakalan remaja, maslah narkoba dan lain-lain.

2. Soaial budaya
Perkembangan generasi muda berada dalam proses modernisasi dengan segala akhir sampingnya yang bisa besar lengan berkuasa pada proses pendewasaannya, sehingga apabila tidak memperoleh arah yang terperinci maka corak dan warna masa depan negara dan bangsa akan menjadi lain dari yang dicita-citakan.

3. Sosial ekonomi
Bertambahnya pengangguran dikalangan generasi muda lantaran kurang lapangan pekerjaan akhir dari pertambahan penduduk dan belum meratanya pembangunan.

4. Sosial politik
Belum terarahnya pendidikan politik dikalangan generasi muda dan belum dihayatinya mekanisme demokrasi pancasila, tertib aturan dan disiplin nasional sehingga merupakan kendala bagi penyaluran aspirasi generasi muda.

Dari uraian diatas sanggup disimpulkan masalah yang menyangkut generasi muda cukup umur ini adalah:

  1. Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme, dan nasionalisme
  2. Kekurangpastian yang dialmi generasi muda terhadap masa depannya
  3. Belum seimbang jumlah generasi muda dan akomodasi pendidikan yang tersedia bail formal/non formal dan tingginya jumlah putus sekolah.
  4. Kurang lapangan kerja dan kesempatan kerja sehingga pengangguran semakin tinggi yang menjadikan kurangnya produktivitas nasional.
  5. Kurang gizi yang menimbulkan kendala bagi kecerdasan dan pertumbuhan badan, lantaran ketidaktauan perihal gizi seimbang dan rendahnya daya beli.
  6. Masih banyak perkawinan dibawah umur terutama dikalangan masyarakat pedesaan.
  7. Adalanya generasi muda yang menderita fisik, mental dan sosial.
  8. Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan kehidupan keluarga.
  9. Meningkatnya kenakalan remaja, penyalahgunaan narkotika.
  10. Belum adanya peraturan perundang-undangan yang menyangkut generasi muda.

C. Narkoba
Sebetulnya penggunaan narkotik, obat-obatan, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) untuk banyak sekali tujuan telah ada semenjak jaman dahulu kala. Masalah timbul bila narkotik dan obat-obatan dipakai secara berlebihan sehingga cenderung kepada penyalahgunaan dan menimbulkan kecanduan (dalam bahasa Inggris disebut “substance abuse”). Dengan adanya penyakit-penyakit yang sanggup ditularkan melalui pola hidup para pecandu, maka masalah penyalahgunaan NAPZA menjadi semakin serius. Lebih memprihatinkan lagi bila yang kecanduan yakni remaja yang merupakan masa depan bangsa, lantaran penyalahgunaan NAPZA ini sangat besar lengan berkuasa terhadap kesehatan, sosial dan ekonomi suatu bangsa.

Dalam istilah sederhana NAPZA berarti zat apapun juga apabila dimasukkan keda1am tubuh manusia, sanggup mengubah fungsi fisik dan/atau psikologis. NAPZA psikotropika besar lengan berkuasa terhadap system pusat syaraf (otak dan tulang belakang) yang sanggup menghipnotis perasaan, persepsi dan kesadaran seseorang.
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tumbuhan atau bukan tumbuhan baik sintetis maupun semisintetis yang sanggup menimbulkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri, dan sanggup menimbulkan ketergantunganNarkotika sendiri dikelompokkan lagi menjadi:

1. Golongan I:
Narkotika yang hanya sanggup dipakai untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak dipakai dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi menjadikan ketergantungan. Contoh: Heroin, Kokain, Ganja.

2. Golongan II:
Narkotika yang berguna pengobatan, dipakai sebagai pilihan terakhir dan sanggup dipakai dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi menjadikan ketergantungan. Contoh: Morfin, Petidin.

3. Golongan III:
Narkotika yang berguna pengobatan dan banyak dipakai dalam terapi dan/atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan menjadikan ketergantungan. Contoh: Codein.

Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah: zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berguna psikoaktif melalui dampak selektif pada susunan saraf pusat yang menimbulkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Psikotropika terdiri dari 4 golongan:
1. Golongan I:
Psikotropika yang hanya sanggup dipakai untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak dipakai dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat menjadikan sindroma ketergantungan. Contoh: Ekstasi.

2. Golongan II:
Psikotropika yang berguna pengobatan dan sanggup dipakai dalan terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat menjadikan sindroma ketergantungan. Contoh: Amphetamine.

3. Golongan III:
Psikotropika yang berguna pengobatan dan banyak dipakai dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang menjadikan sindroma ketergantungan. Contoh: Phenobarbital.

4. Golongan IV:
Psikotropika yang berguna pengobatan dan sangat luas dipakai dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan menjadikan sindroma ketergantungan. Contoh: Diazepam, Nitrazepam (BK, DUM).

D. Zat Adiktif Lainnya
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya yakni materi atau zat yang besar lengan berkuasa psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi:

1. Minuman Alkohol
Mengandung etanol etil alkohol, yang besar lengan berkuasa menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi potongan dari kehidupan insan sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. Jika dipakai bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat dampak obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol:
a. Golongan A: kadar etanol 1-5 % (Bir)
b. Golongan B: kadar etanol 5-20 % (Berbagai minuman anggur)
c. Golongan C: kadar etanol 20-45 % (Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker)

2. Inhalasi, gas yang dihirup dan solven (zat pelarut) gampang menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada banyak sekali barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah: Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.

3. Tembakau, pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi potongan dari upaya pencegahan, lantaran rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.

Berdasarkan efeknya terhadap sikap yang ditimbulkan dari NAPZA sanggup digolongkan menjadi 3 golongan:
1. Golongan Depresan (Downer), yakni jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri. Contohnya: Opioda (Morfin, Heroin, Codein), sedative (penenang), Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti cemas).

2. Golongan Stimulan (Upper), yakni jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.

3. Golongan Halusinogen, yakni jenis NAPZA yang sanggup menimbulkan imbas halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali membuat daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan sanggup terganggu. Contoh: Kanabis (ganja).

Di dalam masyarakat NAPZA/NARKOBA yang sering disalahgunakan adalah:
1. Opiada, terdapat 3 golonagan besar:
a. Opioda alamiah (Opiat): Morfin, Opium, Codein.
b. Opioda semisintetik: Heroin / putauw, Hidromorfin.
c. Opioda sintetik: Metadon.
Nama jalanan dari Putauw: ptw, black heroin, brown sugar. Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan yang tidak murni berwarna putih keabuan. Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah menjadi morfin dengan proses tertentu dihasilkan putauw, yang kekuatannya 10 kali melebihi morfin.Sedangkan opioda sintetik mempunyai kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. Morfin, Codein, Methadon yakni zat yang dipakai oleh dokter sebagai penghilang sakit yang sangat kuat, contohnya pada opreasi, penderita cancer. Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian menimbulkan perasaan ingin menyendiri untuk menikmati imbas rasanya dan pada taraf kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri hingga tak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Pemakai akan membentuk dunianya sendiri, mereka merasa bahwa lingkungannya menjadi musuh.

2. Kokain
Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih gampang larut
Nama jalanan: koka, coke, happy dust, chalie, srepet, snow / salju. Cara pemakainnya: membagi setumpuk kokain menjadi beberapa potongan berbaris lurus diatas permukaan beling atau ganjal yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot mirip sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung potongan dalam. Efek pemakain kokain: pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya diri, dan sanggup menghilangkan rasa sakit dan lelah.

3. Kanabis
Nama jalanan: cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, grass, bhang. Berasal dari tumbuhan kanabis sativa atau kanabis indica. Cara penggunaan: dihisap dengan cara dipadatkan ibarat rokok atau dengan menggunakan pipa rokok. Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa besar hati berlebihan (euphoria), sering berfantasi/menghayal, aktif berkomunikasi, selera makan tinggi, sensitive, kering pada ekspresi dan tenggorokan.

4. Amphetamine
Nama jalanan: seed, meth, crystal, whiz. Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan dan juga tablet. Cara penggunaan: dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air. Ada 2 jenis Amphetamine:
a. MDMA (methylene dioxy methamphetamine) Nama jalanan: Inex, xtc. Dikemas dalam bentuk tablet dan capsul.
b. Metamphetamine ice, nama jalanan: SHABU, SS, ice. Cara pengunaan dibakar dengan mengunakan alumunium foil dan asapnya dihisap atau dibakar dengan menggunakan botol beling yang dirancang khusus (boong).

5. Lysergic Acid
Termasuk dalam golongan halusinogen. Nama jalanan: acid, trips, tabs, kertas. Bentuk: biasa didapatkan dalam bentuk kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar. Ada juga yang berbentuk pil dan kapsul. Cara penggunaan: meletakan LSD pada permukaan lidah, dan bereaksi setelah 30 – 60 menit kemudian, menghilang setelah 8-12 jam. Efek rasa: terjadi halusinasi tempat, warna, dan waktu sehingga timbul obsesi yang sangat indah dan bahkan seram dan lama-lama menjadikan penggunaanya paranoid.

6. Sedatif-hipnotik (benzodiazepin)
Termasuk golongan zat sedative (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur). Nama jalanan: Benzodiazepin: BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp. Cara pemakaian: dengan diminum, disuntikan, atau dimasukan lewat anus. Digunakan di bidang medis untuk pengobatan pada pasien yang mengalami kecemasan, kejang, stress, serta sebagai obat tidur.

7. Solvent/Inhalasi
Adalah uap gas yang dipakai dengan cara dihirup. Contohnya: Aerosol, Lem, Isi korek api gas, Tiner, Cairan untuk dry cleaning, Uap bensin. Biasanya dipakai dengan cara coba-coba oleh anak di bawah umur, pada golongan yang kurang mampu. Efek yang ditimbulkan: pusing, kepala berputar, halusinasi ringan, mual, muntah gangguan fungsi paru, jantung dan hati.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Hubungan Generasi Muda dan Narkoba
Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda cukup umur ini kian meningkat. Maraknya penyimpangan sikap generasi muda tersebut, sanggup membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Karena cowok sebagai generasi yang dibutuhkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin ringkih digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Sehingga cowok tersebut tidak sanggup berpikir jernih. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan.

Sasaran dari penyebaran narkoba ini yakni kaum muda atau remaja. Kalau dirata-ratakan, usia sasaran narkoba ini yakni usia pelajar, yaitu berkisar umur 11 hingga 24 tahun. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ancaman narkoba sewaktu-waktu sanggup mengincar anak didik kita kapan saja.

Ketergantungan obat sanggup diartikan sebagai keadaan yang mendorong seseorang untuk mengonsumsi obat-obat terlarang secara berulang-ulang atau berkesinambungan. Apabila tidak melakukannya ia merasa ketagihan (sakau) yang menjadikan perasaan tidak nyaman bahkan perasaan sakit yang sangat pada tubuh (Yusuf, 2004: 34).

B. Bahaya Narkoba Pada Remaja
Dr. Hassan Syamsi Pasya dalam bukunya yang berjudul Hamasa fi Udzun Syâb (Bisikan Pada Pemuda) menjelaskan bahwa jenis narkoba yang paling berbahaya yakni jenis narkotika yang menimbulkan ketagihan mental maupun organik, mirip opium dan derivasi turunannya. Nama-nama dan jenis narkoba serta bahayanya antara lain:

1. Opium
Opium yakni jenis narkotika yang paling berbahaya. Dikonsumsi dengan cara ditelan eksklusif atau diminum bersama teh, kopi atau dihisap bersama rokok atau syisya (rokok ala Timur Tengah). Opium diperoleh dari buah pohon opium yang belum matang dengan cara menyayatnya hingga mengeluarkan getah putih yang lengket.

Pada mulanya, pengonsumsi opium akan merasa segar bugar dan bisa berimajinasi dan berbicara, namun hal ini tidak bertahan lama. Tak usang kemudian kondisi kejiwaannya akan mengalami gangguan dan berakhir dengan tidur pulas bahkan koma.

Jika seseorang ketagihan, maka opium akan menjadi potongan dari hidupnya. Tubuhnya tidak akan bisa lagi menjalankan fungsi-fungsinya tanpa mengonsumsi opium dalam takaran yang biasanya. Dia akan mencicipi sakit yang luar biasa kalau tidak bisa memperolehnya. Kesehatannya akan menurun drastis. Otot-otot si pecandu akan layu, ingatannya melemah dan nafsu makannya menurun. Kedua matanya mengalami sianosis dan berat badannya terus menyusut.

2. Morphine
Orang yang mengonsumsi morphine akan mencicipi dispensasi (kegesitan) dan kebugaran yang berkembang menjadi hasrat kuat untuk terus mengonsumsinya. Dari sini, takaran pemakaian pun terus ditambah untuk memperoleh ekstase (kenikmatan) yang sama.

Kecanduan materi narkotika ini akan menimbulkan pendarahan hidung (mimisan) dan muntah berulang-ulang. Pecandu juga akan mengalami kelemahan seluruh tubuh, gangguan memahami sesuatu dan kekeringan mulut. Penambahan takaran akan menimbulkan putus asa pada pusat pernafasan dan penurunan tekanan darah. Kondisi ini bisa menimbulkan koma yang berujung pada kematian.

3. Heroin
Bahan narkotika ini berbentuk bubuk kristal berwarna putih yang dihasilkan dari penyulingan morphine. Menjadi materi narkotika yang paling mahal harganya, paling kuat dalam membuat ketagihan (ketergantungan) dan paling berbahaya bagi kesehatan secara umum.

Penikmatnya mula-mula akan merasa segar, ringan dan ceria. Dia akan mengalami ketagihan seiring dengan konsumsi secara berulang-ulang. Jika demikian, maka ia akan selalu membutuhkan takaran yang lebih besar untuk membuat ekstase yang sama. Karena itu, ia pun harus megap-megap untuk mendapatkannya, hingga tidak ada lagi keriangan maupun keceriaan. Keinginannya hanya satu, memperoleh takaran yang lebih banyak untuk melepaskan diri dari rasa sakit yang tak tertahankan dan pengerasan otot akhir penghentian pemakaian.

Pecandu heroin lambat laun akan mengalami kelemahan fisik yang cukup parah, kehilangan nafsu makan, insomnia (tidak bisa tidur) dan terus dihantui mimpi buruk. Selain itu, para pecandu heroin juga menghadapi sejumlah masalah seksual, mirip impotensi dan lemah syahwat. Sebuah data statistik menyebutkan, angka penderita impotensi di kalangan pecandu heroin mencapai 40%.

4. Codeine
Codeine mengandung opium dalam kadar yang sedikit. Senyawa ini dipakai dalam pembuatan obat batuk dan pereda sakit (nyeri). Perusahaan-perusahaan farmasi telah bertekad mengurangi penggunaan codeine pada obat batuk dan obat-obat pereda nyeri. Karena dalam beberapa kasus, meski jarang, codeine bisa menimbulkan kecanduan.

5. Kokain
Kokain disuling dari flora koka yang tumbuh dan berkembang di pegunungan Indis di Amerika Selatan (Latin) semenjak 100 tahun silam. Kokain dikonsumsi dengan cara dihirup, sehingga terserap ke dalam selaput-selaput lendir hidung kemudian eksklusif menuju darah. Karena itu, penciuman kokain berkali-kali bisa menimbulkan pemborokan pada selaput lendir hidung, bahkan terkadang bisa menimbulkan tembusnya dinding antara kedua cuping hidung.

Problem kecanduan kokain terjadi di Amerika Serikat, lantaran faktor kedekatan geografis dengan sumber produksinya. Dengan proses sederhana, yakni menambahkan alkaline pada krak, maka dampak kokain bisa berkembang menjadi sangat aktif. Jika heroin merupakan zat adiktif yang paling banyak menimbulkan ketagihan fisik, maka kokain merupakan zat adiktif yang paling bayak menimbulkan ketagihan psikis.

Setiap tahun, Amerika Serikat membelanjakan anggaran 30 miliar dollar untuk kokain dan krak. Tak kurang dari 10 juta warga Amerika mengonsumsi kokain secara semi-rutin. Pemakaian kokain dalam jangka pendek mendatangkan perasaan riang-gembira dan segar-bugar. Namun beberapa waktu kemudian muncul perasaan gelisah dan takut, hingga halusinasi.

Penggunaan kokain dalam takaran tinggi menimbulkan insomnia (sulit tidur), gemetar dan kejang-kejang (kram). Di sini, pecandu merasa ada serangga yang merayap di bawah kulitnya. Pencernaannya pun terganggu, biji matanya melebar, dan tekanan darahnya naik. Bahkan terkadang bisa menimbulkan maut mendadak.

6. Amfitamine
Obat ini ditemukan pada tahun 1880. Namun, fakta medis mengambarkan bahwa penggunaannya dalam jangka waktu usang bisa menjadikan risiko ketagihan. Pengguna obat adiktif ini mencicipi suatu ekstase dan kegairahan, tidak mengantuk, dan memperoleh energi besar selama beberapa jam. Namun setelah itu, ia tampak lesu disertai stres dan ketidakmampuan berkonsentrasi, atau perasaan kecewa sehingga mendorongnya untuk melaksanakan tindak kekerasan dan kebrutalan.

Kecanduan obat adiktif ini juga menimbulkan degup jantung mengencang dan ketidakmampuan berelaksasi, ditambah lemah seksual. Bahkan dalam beberapa masalah menimbulkan sikap seks menyimpang. Termasuk derivasi (turunan) obat ini yakni obat yang disebut “captagon”. Obat ini banyak dikonsumsi oleh para siswa selama trend ujian, padahal mekanisme penggunaannya sesungguhnya sangat ketat dan hati-hati.

7. Ganja
Ganja mempunyai sebutan yang jumlahnya mencapai lebih dari 350 nama, sesuai dengan daerah penanaman dan konsumsinya, antara lain; mariyuana, hashish, dan hemp. Adapun zat terpenting yang terkandung dalam ganja yakni zat trihidrocaniponal (THC).

Pemakai ganja mencicipi suatu kondisi ekstase yang disertai dengan tawa cekikikan dan terkekeh-kekeh tanpa justifikasi yang jelas. Dia mengalami halusinasi telinga dan penglihatan. Berbeda dengan peminum alkohol yang terkesan brutal dan berperilaku agresif, maka pemakai ganja seringkali malah menjadi penakut.

Dia mengalami kesulitan mengenali bentuk dan ukuran benda-benda yang terlihat. Pecandunya juga mencicipi waktu berjalan begitu lambat. Ingatannya akan insiden beberapa waktu yang kemudian pun kacau-balau. Matanya memerah dan degup jantungnya kencang. Jika berhenti mengonsumsi ganja, ia akan merasa depresi, gelisah, menggigil dan susah tidur. Namun kecanduan ganja biasanya gampang dilepaskan. Dalam jangka panjang, pecandu ganja akan kehilangan gairah hidup. Menjadi malas, lemah ingatan, bodoh, tidak bisa berkonsentrasi dan terdorong untuk melaksanakan kejahatan.

C. Cara Penanggulangan Narkoba Pada Remaja
Upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba sanggup dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Preventif

  • Pendidikan Agama semenjak dini
  • Pembinaan kehidupan rumah tangga yang serasi dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
  • Menjalin komunikasi yang konstruktif antara orang bau tanah dan anak
  • Orang bau tanah menawarkan teladan yang baik kepada anak-anak.
  • Anak-anak diberikan pengetahuan sedini mungkin perihal narkoba, jenis, dan dampak negatifnya

2. Tindakkan Hukum
Dukungan semua pihak dalam pemberlakuan Undang-Undang dan peraturan disertai tindakkan positif demi keselamatan generasi muda penerus dan pewaris bangsa. Sayangnya kitab undang-undang hukum pidana belum mengatur perihal penyalah gunaan narkoba, kecuali UU No :5/1997 perihal Psikotropika dan UU no: 22/1997 perihal Narkotika. Tapi kenapa hingga dikala ini penyalah gunaan narkoba semakin meraja lela ? Mungkin kedua Undang-Undang tersebut perlu di tinjau kembali relevansinya atau menerbitkan kembali Undang-Undang yang gres yang mengatur perihal penyalahgunaan narkoba ini.

3. Rehabilitasi
Didirikan pusat-pusat rehabilitasi berupa rumah sakit atau ruang rumah sakit secara khusus untuk mereka yang telah menderita ketergantungan. Sehubungan dengan hal itu, ada beberapa alternative penanggulangan yang sanggup kami tawarkan :

  • Mengingat penyalah gunaan narkoba yakni masalah global, maka penanggulangannya harus dilakukan melalui kolaborasi international.
  • Penanggulangan secara nasional, yang teramat penting yakni pelaksanaan Hukum yang tidak pandang bulu, tidak pilih kasih. Kemudian menanggulangi masalah narkoba harus dilakukan secara terintegrasi antara pegawanegeri keamanan (Polisi, Tentara Nasional Indonesia AD, AL, AU ) hakim, jaksa, imigrasi, diknas, semua dinas/instansi mulai dari pusat hingga ke daerah-daerah. Adanya inspirasi tes urine dikalangan Pemerintah Daerah Kalteng yakni suatu inspirasi yang manis dan perlu segera dilaksanakan. Barang siapa terindikasi mengkomsumsi narkoba harus ditindak sesuai peraturan DIsiplin Pegawai Negri Sipil dan peraturan yang mengatur perihal pemberhentian Pegawai Negri Sipil mirip tertuang dalam buku training Pegawai Negri Sipil. Kemudian dikalangan Dinas Pendidikan Nasional juga harus berani melaksanakan test urine kepada para siswa SLTP-SLTA, dan barang siapa terindikasi positif narkoba biar dikeluarkan dari sekolah dan disalurkan ke pusat rehabilitasi. Di sekolah- sekolah biar dilakukan razia tanpa pemberitahuan sebelumnya terhadap para siswa yang sanggup dilakukan oleh guru-guru setiap minggu. Demikian juga dikalangan mahasiswa di akademi tinggi.
  • Khusus untuk penanggulangan narkoba di sekolah biar kolaborasi yang baik antara orang bau tanah dan guru diaktifkan. Artinya guru bertugas mengawasi para siswa selama jam berguru di sekolah dan orang bau tanah bertugas mengawasi anak-anak mereka di rumah dan di luar rumah. Temuan para guru dan orang bau tanah biar dikomunikasikan dengan baik dan dipecahkan bersama, dan dicari upaya preventif penanggulangan narkoba ini dikalangan siswa SLTP dan SLTA.
  • Polisi dan pegawanegeri terkait biar secara rutin melaksanakan razia mendadak terhadap banyak sekali diskotik, karaoke dan tempat-tempat lain yang mencurigakan sebagai tempat transaksi narkoba. Demikian juga merazia para penumpang pesawat, kapal bahari dan kendaraan darat yang masuk, baik secara rutin maupun secara insidental.
  • Pihak Departemen Kesehatan berhubungan dengan POLRI untuk menerbitkan sebuah booklet yang berisikan perihal banyak sekali hal yang terkait dengan narkoba. Misalnya apakah narkoba itu, apa saja yang digolongkan kedalam narkoba, bahayanya, kenapa orang mengkomsumsi narkoba, tanda- tanda yang harus diketahui pada orang- orang pemakai narkoba cara melaksanakan upaya preventif terhadap narkoba. Disamping itu melaksanakan penyuluhan ke sekolah-sekolah, akademi tinggi, dan banyak sekali instansi perihal ancaman dan dampak negative dari narkoba. Mantan pemakai narkoba yang sudah sadar perlu dilibatkan dalam acara penyuluhan mirip itu biar masyarakat eksklusif tahu latar belakang dan akhir mengkomsumsi narkoba.
  • Kerja sama dengan tokoh-tokoh agama perlu dieffektifkan kembali untuk membina kepercayaan dan rohani para umatnya biar dalam setiap kotbah para tokoh agama selalu mengingatkan perihal ancaman narkoba.
  • Seperti di Australia, contohnya pemerintah sudah mempunyai akad untuk memerangi narkoba. Karena sasaran narkoba yakni anak-anak usia 12-20 tahun, maka solusi yang ditawarkan yakni komunikasi yang serasi dan terbuka antara orang bau tanah dan anak-anak mereka. Booklet perihal narkoba tersebut dibagi-bagikan secara gratis kepada semua orang dan dikirin lewat pos kealamat-alamat rumah, aparteman, hotel, sekolah-sekolah dan lain-lain. Sehubungan dengan masalah ini, maka keluarga yakni kunci utama yang sangat memilih terlibat atau tidaknya anak-anak pada narkoba. Oleh lantaran itu komunikasi antara orang bau tanah dan anak-anak harus diefektifkan dan dibudayakan.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masalah pencegahan penyalahgunaan narkoba ialah mejadi tanggung jawab kita semua. Narkoba merupakan segolongan obat, bahan, atau zat, yang kalau masuk ke dalam tubuh besar lengan berkuasa terutama pada fungsi otak (susunan saraf pusat) dan sering menimbulkan ketergantungan (adiktif). Terjadi perubahan pada kesadaran, pikiran, perasaan, dan sikap pemakainya. Zat yang ditelan, masuk ke dalam lambung, kemudian pembuluh darah. Jika dihisap atau dihirup, zat masuk ke dalam pembuluh darah melalui hudung dan paru-paru. Jika disuntikkan, zat eksklusif masuk ke darah. Darah membawa zat itu ke dalam otak. Otak yakni pusat kendali tubuh. Jika kerja berubah, seluruh organ tubuh pun ikut berpengaruh.

Kepedulian yakni sebuah bentuk dari cinta dan kasih sayang kita sebagai insan sosial yang berbudaya. Setiap kita yakni pesan yang tersirat bagi orang lain, dan begitupula sebaliknya. Kita semua mengakui bahwa setiap orang tidak ada yang mencapai kesempurnaan. Oleh lantaran itu dengan sikap kepedulian itu akan membentuk kesempurnaan dengan cara saling melengkapi satu sama lain.

Melalui sikap kepedulian, pencegahan banyak sekali tindak kriminal, kenakalan remaja, keamanan, kedamaian, keharmonisan, akan gampang diciptakan. Dengan sikap kepedulian ini, maka motto bahwa, ”Pencegahan lebih baik dari mengobati”, akan benar-benar terbukti dalam masalah pemakaian obat-obat terlarang.

Pada tahap awal kehidupan insan distributor sosialisasi pertama yakni keluarga. Oleh lantaran itu, orang bau tanah merupakan orang penting (significant other) dalam sosialisasi. Guna mencegah terjerumusnya para penerus bangsa tersebut ke dunia Narkoba, maka campur tangan dan tanggung jawab orang bau tanah memegang peranan penting di sini. Karena baik atau buruknya sikap anak sangat bergantung bagaimana orang bau tanah menjadi teladan bagi putra-putrinya.

B. Saran
Di masyarakat ada 2 tipe dalam mengasingkan pecandu, pertama orang yang tidak tahu dan orang yang tidak tahu serta tidak mau peduli. Maka dari itu janganlah kita menjauhi para pecandu narkoba lantaran itu akan membuat pecandu terjerumus lebih dalam lantaran merasa kurang perhatian. Bagi para masyarakat jangan berfikir negatif perihal pecandu narkoba, tetapi kita harus menawarkan perhatian lebih sehingga para pecandu tidak merasa diasingkan dan terbuang.

Bagi para pecandu coba bersikap terbuka terhadap orang yang ia percaya (tepat) untuk mendapat respons yang baik. Jangan berfikir “YOU CAN SOLVE THEM BY YOURSELF” dan jangan takut untuk menuju perubahan. Intinya “DON’T BE AFFRAID TO SPEAK UP !!”.

DAFTAR PUSTAKA

  • Effendi, Luqman, 2008. Modul Dasar-Dasar Sosiologi&Sosiologi KesehatanI. Jakarta: PSKM FKK UMJ.
  • Kartono, Kartini, 1992. Patologi II Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali.
  • Mangku, Made Pastika, Mudji Waluyo, Arief Sumarwoto, dan Ulani Yunus, 2007. pecegahan Narkoba Sejak Usia Dini. Jakarta: Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia.
  • Shadily, Hassan, 1993. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
  • Soekanto, Suryono, 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persuda
  • Sofyan, Ahmadi, 2007. Narkoba Mengincar Anak Anda Panduan bagi Orang tua, Guru, dan Badan Narkotika dalam Penanggulangan Bahaya Narkoba di Kalangan Remaja. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
  • Sudarman, Momon, 2008. Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.
  • Syani, Abdul, 1995.  Sosiologi dan Perubahan Masyarakat. PT DUNIA PUSTAKA JAYA.

Dengan Contoh makalah bahasa indonesia perihal ancaman narkoba dan generasi gampang semoga menjadi info yang bermanfaat buat anda semua yang dikala ini ingin mengetahui tentang  Contoh Makalah Bahaya Narkoba ini.

Baca juga : Contoh Makalah Koperasi yang sudah saya tulis sebelumnya buat kau sebat hehe..

Komentar

News Feed