oleh

Kabar Terbaru- Pola Karya Tulis Ilmiah Imbas Polusi Udara

Contoh Karya Tulis Ilmiah Pengaruh Polusi Udara – Saat ini anda mencari karya tulis ilmiah bertema imbas polusi udara, maka kami persembahkan kepada anda yang mencari hal tersebut, dimana kami sampaikan sangat lengkap sekali, sehingga anda sanggup mencontoh atau mempersentasekan karya tulis ilmiah yang kami sampaikan di sekolah anda. Hanya tinggal anda edit sesuaikan dengan impian anda untuk isi anda sanggup tentukan sendiri untuk nilai presentasi anda dikala ini dengan pengetahuan anda ihwal imbas polusi udara yang anda ketahui dikala ini.

Karya Tulis Ilmiah Pengaruh Polusi Udara yang sanggup anda melihat disini dibawah ini, ini hanya menjadi rujuan anda, pelajari dan tulis dengan sesuai karya tulis ilmiah anda semoga presentasia anda sanggup di terimah oleh dosen atau guru pembimbing anda oke.

Kata Pengantar

Akhir-akhir ini kita sering mendengar ihwal pemanasan global dan perubahan iklim. Isu yang selalu hangat utuk diperbincangkan. Selepas dari itu ada suatu pokok problem yang pernah hangat diperbincangkan public yang sekarang mulai tidak diperdulikan lagi yaitu Pengaruh Polusi Udara Terhadap Kesehatan Masyarakat Perkotaan. Padahal problem ini sangatlah besar lengan berkuasa terhadap kegiatan masyarakat kota, mulai dari berdagang, berbisnis, atau hanya sekedar jalan-jalan di kota. Polusi udara yakni penyebab utama dalam problem ini.

Dengan ijin Allah s.w.t, kami sangat besyukur hasilnya kami sanggup menciptakan karya ilmiah dengan judul Pengaruh Polusi Udara Terhadap Kesehatan Masyarakat Perkotaan dalam penyelesaian kiprah skill grouping Bahasa Indonesia kami. Supaya sanggup menyadarkan kita semua akan udara yang higienis dan sehat. Jika ada salah-salah kaitannya dengan karya ilmiah kami, kami meminta maaf sebeser-besarnya.

Probolinggo, 21 Juni 2013

Adien Gunarta
Nanda Purama Faiz
Oki Pritantoko
Fadli Afriansyah

Latar Belakang

Banyaknya kendaraan berbahan bakar fosil dan banyak sekali industri di kota-kota menciptakan kualitas udara kota menurun dan membahayakan kesehatan masyarakatnya. Warga kota terlalu sibuk dengan segala aktifitasnya sehari-hari sehingga tidak sanggup memikirkan selain pekerjaannya. Kekurang pedulian masyarakat kota memperparah polusi udara di kota. Dimulai dari asap kendaraan bermotor, asap dapur hingga cerobong-cerobong industri. Kita sebagai penerus kehidupan umat insan haruslah menjaga lingkungan kita tinggal yang kian hari semakin rusah. Pencemaran udara di kota sanggup ditanggulangi dengan menanam pohon, pembuatan hutan kota dan lain-lain, sehingga terciptalah lingkungan yang nyaman dan sehat untuk kita tinggali.

Rumusan Masalah

1. Apa yang menimbulkan polusi udara?
2. Bagaimana dampak polusi udara terhadap kesehatan manyarakat kota?
3.  Zat apa saja yang menimbulkan polusi udara beracun bagi badan kita?
4. Bagaimana prosedur gangguan kesehatan akhir polusi udara secara umum?
5. Apa solusi terbaik untuk mangatasi problem ini?

Tujuan Pembahasan

Menyadarkan masyarakat kota-kota besar Indonesia akan pentingnya udara yang higienis dan sehat. Karena masyarakat kota kurang peduli terhadap lingkungan sekitanya. Pada halnya polusi udara sendiri tercipta akhir kegiatan masyarakat kota itu sendiri sehingga tidak ada pihak yang harus disalahkan atas polusi udara melainkan mansyarakat kota itu sendiri. Jadi, tidak akan pernah berhasil pengurangan dampak polusi udara bila kita tidak tolong-menolong menanggulanginya. Perlu diingatkan di sini bahwa kegiatan positif yang kita lakukan juga untuk diri kita sendiri. Kaprikornus mengapa kita tidak menyelamatkan lingkungan kita kalau kita juga akan selamat?

Metode

Cara mendapat informasi:

Mencari di internet dengan alamat:

http://www.yahoo.com
http://www.google.co.id
http://www.images.google.com
http://www.bing.com
http://www.walhi.com

Kajian Pustaka

POLUSI udara kota di beberapa kota besar di Indonesia, khususnya di Jakarta, telah sangat memprihatinkan. Beberapa hasil penelitian ihwal polusi udara dengan segala risikonya telah dipublikasikan, termasuk risiko kanker darah. Namun, jarang disadari, entah berapa ribu warga kota yang meninggal setiap tahunnya alasannya yakni benjol kanal pernapasan, asma, maupun kanker paru akhir polusi udara kota.
Meskipun sesekali telah mulai turun hujan, tetapi coba sempatkan menengok ke langit dikala udara cerah semenjak pagi hingga sore hari. Langit di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia sudah tidak biru lagi. Udara kota telah dipenuhi oleh jelaga dan gas-gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Diperkirakan, dalam sepuluh tahun mendatang terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit paru dan kanal pernapasan dengan sangat bermakna. Bukan hanya benjol kanal pernapasan akut yang sekarang menempati urutan pertama dalam pola penyakit di banyak sekali wilayah di Indonesia, tetapi juga meningkatnya jumlah penderita penyakit asma dan kanker paru.

Di kota-kota besar, bantuan gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70 persen. Sedangkan bantuan gas buang dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15 persen, sisanya berasal dari sumber pembakaran lain, contohnya dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan lain-lain.

Sebenarnya banyak polutan udara yang perlu diwaspadai, tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan beberapa jenis polutan yang dianggap serius. Polutan udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan, serta gampang merusak harta benda yakni partikulat yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, belerang dioksida, dan nitrogen oksida. Kesemuanya diemisikan oleh kendaraan bermotor.

WHO memperkirakan bahwa 70 persen penduduk kota di dunia pernah menghirup udara kotor akhir emisi kendaraan bermotor, sedangkan 10 persen sisanya menghirup udara yang bersifat “marjinal”. Akibatnya fatal bagi bayi dan anak-anak. Orang arif balig cukup akal yang berisiko tinggi, contohnya perempuan hamil, usia lanjut, serta orang yang telah mempunyai riwayat penyakit paru dan kanal pernapasan menahun. Celakanya, para penderita maupun keluarganya tidak menyadari bahwa banyak sekali akhir negatif tersebut berasal dari polusi udara akhir emisi kendaraan bermotor yang semakin memprihatinkan.

Kita perlu mencar ilmu melalui pengalaman dari negara lain dalam hal polusi udara kota ini. Pada tahun 1990-an dilaporkan bahwa di Cubatao, Brasil, terjadi bencana lingkungan yang cukup fatal bagi bayi. Empat puluh dari setiap 1000 bayi yang lahir di kota itu meninggal dikala dilahirkan, sedangkan 40 yang lain kebanyakan cacat atau meninggal pada ahad pertama hidupnya. Pada kurun tahun tersebut, dengan 80.000 penduduk, Cubatao mengalami sekitar 10.000 kasus kedaruratan medis, yang mencakup penyakit tuberkulosis (TBC), pneumonia, bronkitis, emfisema, asma bronchiale, serta beberapa penyakit pernapasan lain.

Polusi udara berasal dari banyak sekali sumber, dengan hasil pembakaran materi bakar fosil merupakan sumber utama. Contoh sederhana yakni pembakaran mesin diesel yang sanggup menghasilkan partikulat (PM), nitrogen oksida, dan precursor ozon yang semuanya merupakan polutan berbahaya.  Polutan yang ada diudara sanggup berupa gas (misal SO2, NOx, CO, Volatile Organic Compounds) ataupun partikulat.  Polutan berupa partikulat tersuspensi, disebut juga PM (Particulate Matter) merupakansalah satu komponen penting terkait dengan pengaruhnya terhadap kesehatan. PM sanggup diklasifikasikan menjadi 3; yaitu coarse PM (PM bernafsu atau PM2,5-10) berukuran 2,5-10 ƒÊm, bersumber dari erosi tanah, abu jalan (debu dari ban atau kampas rem), ataupun akhir agregasi partikel sisa pembakaran. Partikel seukuran ini sanggup masuk dan terdeposit di kanal pernapasan utama pada paru (trakheobronkial); sedangkan fine PM (<2,5 ƒÊm) dan ultrafine (<0,1 ƒÊm) berasal dari pembakaran materi bakar fosil dan sanggup dengan gampang terdeposit dalam unit terkecil kanal napas (alveoli) bahkan sanggup masuk ke sirkulasi darah sistemik. Klasifikasi berdasar ukuran ini juga terkait dengan akhir jelek partikel tersebut terhadap kesehatan sehingga WHO dan juga US Environmental Protection Agency menetapkan standar PM dan polutan lain untuk dipakai sebagai dasar acuan (Tabel 1).

Tabel 1. Standar polutan udara berdasarkan EPA

Pollutan                                                                       Waktu
PM10 (ƒÊg/m3)                                                   150 (/24jam)                        50 (/tahun)
PM2,5 (ƒÊg/m3)                                                   65 (/24 jam)                       15 (/tahun)
Ozone (ppm)                                             0.12 (/1jam)                    0.08 (/8 jam)
NO2 (ppm)                                                                                         0.053 (/tahun)
SO2 (ppm)                                                       0.14 (/24 jam)               0.03 (/tahun)

Efek yang ditimbulkan oleh polutan tergantung dari besarnya pajanan (terkait dosis/kadarnya di udara dan lama/waktu pajanan) dan juga faktor kerentanan host (individu) yang bersangkutan (misal: imbas jelek lebih gampang terjadi pada anak, individu pengidap penyakit jantung-pembuluh darah dan pernapasan, serta penderita diabetes melitus).  Pajanan polutan udara sanggup mengenai pecahan badan manapun, dan tidak terbatas pada inhalasi ke kanal pernapasan saja. Sebagai contoh, imbas polutan udara juga sanggup menjadikan iritasi pada kulit dan mata. Namun demikian, sebagian besar penelitian polusi udara terfokus pada imbas akhir inhalasi/terhirup melalui kanal pernapasan mengingat kanal napas merupakan pintu utama masuknya polutan udara kedalam tubuh. Selain faktor zat aktif yang dibawa oleh polutan tersebut, ukuran polutan juga memilih lokasi anatomis terjadinya deposit polutan dan juga efeknya terhadap jaringan sekitar. Fine PM (<1 ƒÊm) sanggup dengan gampang terserap masuk ke pembuluh darah sistemik. Indikator akhir pajanan jangka pendek dan jangka panjang polutan terhadap kesehatan sanggup dilihat pada Tabel 2.
   
Berikut ini beberapa prosedur biologis bagaimana polutan udara mencetuskan tanda-tanda penyakit:

1.    Timbulnya reaksi radang/inflamasi pada paru, contohnya akhir PM atau ozon.
2.    Terbentuknya radikal bebas/stres oksidatif, contohnya PAH(polyaromatic hydrocarbons).
3.    Modifikasi ikatan kovalen terhadap protein penting intraselular ibarat enzim-enzim yang bekerja dalam tubuh.
4.    Komponen biologis yang menginduksi inflamasi/peradangan dan gangguan system imunitas tubuh, contohnya golongan glukan dan endotoksin.
5.    Stimulasi sistem saraf otonom dan nosioreseptor yang mengatur kerja jantung dan kanal napas.
6.    Efek adjuvant  (tidak secara eksklusif mengaktifkan sistem imun) terhadap sistem  imunitas tubuh, contohnya logam golongan transisi dan DEP/diesel exhaust particulate.
7.    Efek procoagulant yang sanggup menggangu sirkulasi darah dan memudahkan penyebaran polutan ke seluruh tubuh, contohnya ultrafine PM.
8.    Menurunkan sistem pertahanan badan normal (misal: dengan menekan fungsi alveolar makrofag pada paru).

Tabel 2. Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan jangka pendek dan jangka panjang

Pajanan jangka pendek
–          Perawatan di rumah sakit, kunjungan ke Unit Gawat Darurat atau kunjungan rutin dokter, akhir penyakit yang terkait dengan respirasi (pernapasan) dan kardiovaskular.
–          Berkurangnya acara harian akhir sakit
–          Jumlah ketidakhadiran (pekerjaan ataupun sekolah)
–          Gejala akut (batuk, sesak, benjol kanal pernapasan)
–          Perubahan fisiologis (seperti fungsi paru dan tekanan darah)
Pajanan jangka panjang
–          Kematian akhir penyakit respirasi/pernapasan dan kardiovaskular
–          Meningkatnya Insiden dan prevalensi penyakit paru kronik (asma, penyakit paru osbtruktif kronis)
–          Gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin 
–          Kanker 

Sumber: WHO dan ATS (American Thoracic Society) 2005

Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada pembenahan sektor transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Hal ini kita perlu mencar ilmu dari kota-kota besar lain di dunia, yang telah berhasil menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan serta maut yang diakibatkan karenanya.

* Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi, sementara kendaraan angkutan massal, ibarat bus dan kereta api, diperbanyak.

* Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin bau tanah kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk memberi bantuan polutan udara.

* Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor yakni kemacetan kemudian lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan kemudian lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan sanggup membantu mengatasi kemacetan kemudian lintas dan mengurangi polusi udara.

* Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang-gang yang sering diistilahkan dengan “polisi tidur” justru merupakan biang polusi. Kendaraan bermotor akan memperlambat laju

* Uji emisi harus dilakukan secara terjadwal pada kendaraan umum maupun pribadi meskipun secara uji petik (spot check). Perlu dipikirkan dan dipertimbangkan adanya kewenangan pemanis bagi polisi kemudian lintas untuk melaksanakan uji emisi di samping menyidik surat-surat dan kelengkapan kendaraan yang lain.

* Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan, terutama yang kemudian lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga mengurangi polusi udara.

Penutup

Polusi udara dan dampaknya terhadap kesehatan merupakan problem kasatmata terkait dengan urbanisasi/pembangunan.  Untuk mengurangi imbas polusi udara tergadap kesehatan, pengurangan sumber polutan sudah niscaya harus merupakan sasaran utama jangka panjang baik dengan pemanfaatan teknologi maupun regulasi pemerintah.  Namun demikian, untuk  jangka pendek,  mengurangi pajanan individual merupakan salah satu cara yang cost-effective. Pengurangan pajanan secara makro sanggup dilakukan contohnya dengan pemberlakuan  zona khusus kendaraan bermotor ataupun penentuan lokalisasi industri. Secara mikro contohnya dengan memperbaiki ventilasi/sirkulasi udara di kawasan tinggal/kerja ataupun menunjukkan pendidikan/informasi bagi populasi yang rentan semoga mengurangi pajanan tersebut serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Kesimpulan

Untuk mengurangi dampak polusi udara terhadap kesehatan manyarakat perkotaan sanggup dilakukan dengan cara-cara yang sudah disebutkan dalam kajian pustaka. Dalam pelaksanannya harus bersama dengan semua pihak yang terkait mulai dari Pemerintah, LSM dan masyarakat secara umum.

Saran

Kita menyarankan kepada pemerintah semoga menciptakan peraturan yang ketat terkait pencemaran lingkungan udara, air ataupun tanah. Juga menyarankan kepada kepolisian semoga menjaga kemudian lintas tetap lancar sehinnga mengurangi emisi gas yang terbuang ke udara. Juga kiprah masyarakat terhadap lingkungan itu sendiri.

Daftar pustaka

http://www.yahoo.com
http://www.google.co.id
http://www.images.google.com
http://www.bing.com
http://www.wahli.com
http://www.wikipedia.com
http://www.freefoto.com

Daftar pustaka dari sebuah situs yang kami kunjungi:

1.       American Thoracic Society. What constitutes and adverse health effect of air pollution? Am J Respir@Crit Care Med 2000;161:665–73.
2.       Air Pollution and Cardiovascular Disease: A Statement for Healthcare Professionals  From the Expert Panel on Population and Prevention Science of American Heart Association. Circulation 2004;109;2655-2671
3.       Bhatnagar A. Environmental Cardiology: Studying Mechanistic Links Between Pollution and Heart Disease. Circ. Res. 2006;99:692-705.
4.       Holguin F. Traffic related exposures and lung function in adult. Thorax 2007;62:837-8.
5.       Jerrett M. Does traffic-related air pollution contribute to respiratory diseases formation in children? Eur Respir J 2007;29:825–6.
6.       Lippmann M. Health Effects of Airborne Particulate Matter. N Engl J Med 2007;357:23.
7.       Napitupulu L, Resosudarmo BP. Health and Economic Impact of Air Pollution in Jakarta. Economic Record 2004;80:s1:s65-75
8.       Nel A. Atmosphere. Air Pollution–Related Illness: Effects of Particles. Science 2005;308:804-6.
9.       Ostro, B. 1994 Estimating Health Effects of Air Pollutants: A Methodology with an Application to Jakarta. Policy Research Working Paper 1301. Washington, D.C. the World Bank
10.    WHO Regional Office for Europe. Air quality guidelines for Europe, 2nd ed. Copenhagen, 2005   (WHO Regional Publications, European Series).
11.    www.who.int  Accessed on February 19, 2008    
12.    www.epa.gov  Accessed on February 19, 2008
13.    www.worldbank.org  Accessed on February 19, 2008

Bagimana dengan info yang kami sampaikan diatas ihwal Contoh Karya Tulis Ilmiah Pengaruh Polusi Udara, semoga bermanfaat buat anda semua ya untuk dikala ini yang ingin menciptakan karya tulis ilmiah tema polusi udara.

Baca juga : Contoh Karya Tulis Ilmiah Tentang Sampah 

Komentar

News Feed