oleh

Kabar Terbaru- Malam Jahanam Di Mataram Wiro Sableng 212

WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : MALAM JAHANAM DI MATARAM

TIGA MAHLUK BERBENTUK KELELAWAR RAKSASA MENGUIK KERAS. MEREKA MENUKIK KE BAWAH DAN LENYAP DI BALIK KABUT YANG MULAI MUNCUL MENUTUPI KAWASAN PUNCAK GUNUNG SEMERU, SESAAT KEMUDIAN TERDENGAR SUARA PENGUASA ATAP LANGIT.”SINUHUN MERAH PENGHISAP ARWAH, TERAKHIR KALI KAU DATANG KAU MEMBAWA SESAJEN ATAP LANGIT BERUPA DELAPAN JANTUNG BAYI LELAKI. KATAKAN PADAKU, KALI INI SESAJEN ATAP LANGIT APA YANG KAU BAWA UNTUK DELAPAN ANAK KUCING JANTAN MERAH SAKTI PELIHARAAN DIRGA PURANA!” “PENGUASA ATAP LANGIT, SESAJEN YANG KUBAWA KALI INI ADALAH SUMSUM DELAPAN BAYI LELAKI YANG TELAH DICAIRKAN MENJADI SUSU.”




SATUDI RUANG Segi Tiga Mayat yang terletak di dalam tanah di bawah Candi Plaosan Lor, Empu Semirang Biru mendadak saja dilanda kekawatiran. Di atas atap bunyi ngeongan delapan anak kucing merah semakin keras. Ruangan segi tiga bergetar keras. Delapan Sukma Merah bukan anak kucing biasa!


Orang renta pembuat Keris Kanjeng Sepuh Pelangi ini menatap ke atas atap.

“Bagaimana kalau dua Sinuhun mempunyai ilmu penangkal baru, kemudian sanggup menembus masuk ke dalam Ruang Segi Tiga Nyawa. Delapan anak kucing merah niscaya akan menyerbu lebih dulu. Dewa Agung, lindungi kami semua yang ada di ruangan ini. Selamatkan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi dari tangan mahluk-mahluk jahat.”


Baru saja Empu Semirang Biru membatinkan kekawatirannya tiba-tiba braakkk!

Satu sosok terkapar di lantai ruangan. Pakaian robek-robek dipenuhi noda darah. Di wajah ada tiga guratan luka kemudian di dada ada dua lagi.

“Wiro!”

Ratu Randang, Sakuntaladewi dan Kunti Ambiri sama-sama terpekik. Jaka Pesolek tidak ikut menjerit tapi gadis ini melompat lebih dulu, menjatuhkan diri di samping sosok yang terbujur di lantai yang memang sosok Pendekar 212 Wiro Sableng adanya. Jaka Pesolek pribadi memeluk. Tubuh Wiro terasa panas.

Untuk beberapa lama sosok Wiro membisu tak bergerak. Tiba-tiba dari mulutnya keluar bunyi mengerang pendek. Tubuh menggeliat kemudian melompat mencoba berdiri. Dia tampak mengerahkan seluruh tenaga yang ada namun terhuyung kemudian jatuh berlutut. Wiro berusaha bertahan, mengerahkan kekuatan untuk tidak ambruk hingga sekujur tubuhnya tampak bergetar. Keringat memercik Kepala mendongak, mata terpejam, verbal terkancing. Para teman yang ada dalam ruangan berusaha menolong. Empat pasang tangan memegangi.

“Tubuhnya panas…”ucap Sakuntaladewi.

“Wiro! Apa yang terjadi?!”Bertanya Kunti Ambiri sambil dekatkan mulutnya ke indera pendengaran Wiro. Gadis yang selama lini lebih dikenal dengan sebutan Dewi Ular membuat dua totokan. Satu di punggung dan satu lagi di dada. Ratu Randang alirkan hawa sakti. Sakuntaladewi alias Dewi Kaki Tunggal cengkeramkan sepuluh jari berkuku jingga ke pundak kiri kanan kemudian kerahkan tenaga dalam.

Ratu Randang tidak tinggal diam. Dia letakkan telapak tangan di atas kepala Wiro sementara dua kaki yang menginjak lantai ruangan tampak bergetar. Nenek ini tengah menerapkan ilmu kesaktian yang disebut Tangan Langit Kaki Bumi.

Jaka Pesolek yang tidak punya kesaktian apa- apa hanya bisa memperhatikan dengan wajah tegang.

Tiba-tiba verbal Wiro yang semenjak tadi tertutup membuka lebar. Bukan untuk bicara menjawab pertanyaan Sakuntaladewi tapi malah muntahkan darah segar.

Ratu Randang, Jaka Pesolek, Kunti Ambiri dan Sakuntaladewi sama-sama menjerit.

Wajah Pendekar 212 tampak merah kemudian dengan cepat berubah pucat putih mirip mayat.

Di atas atap ruangan segi tiga bunyi ngeongan kucing semakin gaduh. Ujud mereka hanya terlihat samar.

“Binatang jahanam! Biar kurobek dulu verbal kalian semua!”Teriak Kunti Ambiri marah. Dia segera hendak mengerahkan serangan Sepuluh Ular Akhirat Turun Ke Bumi. Tapi cepat dicegah oleh Ratu Randang.

“Kunti, jangan perhatikan binatang-binatang celaka itu. Seperti kata Empu Semirang Biru mereka tidak akan bisa menembus masuk ke dalam sini. Lagi pula ujud mereka terlihat samar. Mereka bisa bergerak cepat. Sulit dijajagi keberadaannya secara pasti!”

“Sepuluh ular saktiku bisa mengendus dan melihat hewan itu berada dimana.

Sekali menyerang mereka sudah mengunci kedudukan sasaran!”

“Dari pada mengurusi kucing lebih baik menolong Wiro lebih dulu.”Berkata Jaka Pesolek.

“Hyang Jagat Bathara! Apa yang harus kita lakukan? Aliran hawa sakti dan tenaga dalam serta totokan tampaknya tidak banyak menolong!” Kata Sakuntaladewi setengah berteriak. Diantara semua orang yang ada dalam ruangan itu memang beliau yang paling merasa kawatir. Karena kalau sang pahlawan hingga menemui kematian maka kaulnya untuk mendapat kesembuhan atas dua kakinya yang cacat dengan cara mengawini Wiro akan gagal selama-lamanya. Ketika beliau hendak memeluk Pendekar 212, dari tempatnya duduk bersila dalam keadaan dilihat rantai besi merah, Empu Semirang Biru berkata.

“Kalian semua, dengar apa kataku. Menurut penglihatanku, dari luka yang ada di wajah dan dada cowok berambut gondrong itu, agaknya beliau telah terkena serangan Cakar Sukma Merah delapan anak kucing merah. Lukanya mengandung racun sangat jahat dan sangat mematikan. Aku bisa mencicipi bahu-membahu cowok itu mempunyai kekebalan terhadap racun. Selain itu ada satu senjata sakti di dalam tubuhnya. Senjata yang bisa memusnahkan segala macam racun.

Namun agaknya jalur hawa sakti dan tenaga dalam yang dimilikinya telah disumbat mahluk jahat. Hingga beliau tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Jika hingga matahari karam racun dalam tubuhnya tidak bisa disembuhkan nyawanya tidak akan tertolong ……”

Semua orang yang ada dalam ruangan keluarkan permintaan tertahan dan saling pandang dengan wajah tegang.

“Celaka, kita berada di dalam tanah. Bagaimana tahu saatnya matahari akan tenggelam!”Kata Kunti Ambiri.

Ratu Randang berlutut di lantai, memperhatikan luka di muka dan dada Wiro.

Dia ingat apa yang terjadi dengan dirinya.

“Empu Semirang Biru, apa yang kamu katakan niscaya benar. Sebelumnya saya juga telah diserang oleh delapan ekor anak kucing merah. Tangan kananku terkena sambaran cakaran kuku berbentuk pisau. Saat itu saya hanya mengalami satu luka kecil. Pemuda ini menderita lima guratan luka. Pasti keadaannya jauh lebih berbahaya. Hanya ada satu orang yang bisa menyembuhkan. Dan hanya ada satu tempat penyembuhan bisa dilakukan! Aku kawatir…”Suara si nenek tercekat.

Sepasang mata berkaca kaca.

“Nenek Ratu Randang…”Kata Sakuntaladewi sambil pegang pundak Ratu Randang. Tepat katakan siapa orang yang bisa menyembuhkan luka bekas cakaran itu. Juga dimana racun bisa dimusnahkan!”

Ratu Randang unjukkan wajah muram.

“Orangnya yaitu kakek sakti berjubah dan bersorban kelabu yang telah menolongku. Dimana mencarinya saya tidak sanggup mengatakan. Dia muncul dan pergi secara aneh. Siapa beliau adanya saya tidak tabu. Tapi mirip yang dijelaskan Empu Semirang Biru, orang itu yaitu Embah Buyut dari Kumara Gandamayana, salah seorang sahabatku, pembantu dan kepercayaan Raja. Kumara sebelumnya bergabung dengan Rauh Kalidathi dalam perjalanan menyelamatkan Raja Mataram ke satu tempat rahasia.”

“Lalu tempat penyembuhan yang kamu katakan?”Kunti Ambiri yang bertanya.

“Delapan tombak di dalam lapisan tanah.”jawab Ratu Randang.

“Ratu, dari mana kamu tahu hal itu?”Tanya Kunti Ambiri.

“Orang renta itu yang menyampaikan waktu beliau menolongku. Dia membawaku masuk ke dalam tanah sedalam delapan tombak.”

Semua orang saling pandang.

“Empu Semirang Biru, kamu tahu kita di ruangan in! berada di lapisan tanah sedalam berapa tombak?”Bertanya Ratu Randang.

“Menurut taksiranku, paling dalam hanya empat tombak.”

Semua orang terdiam hingga kesannya Jaka Pesolek memecah kesunyian.

“Kalau begitu biar saya menemui kakek berjulukan Kumara Gandamayana itu.” Kata Jaka Pesolek.

“Kalaupun bisa ditemu belum tentu Kumara Gandamayana punya ilmu bisa menyembuhkan cowok itu. Selain itu belum tentu beliau mengetahui dimana Embah Buyutnya berada,”berkata Empu Semirang Biru. “Kakek sakti dari alam mistik itu memang larang muncul di luaran. Kalaupun muncul hanya beberapa seat saja.

Konon beliau dikabarkan selalu melaksanakan samadi di satu tempat yang berjulukan Atap Langit. Tempat itu yaitu tempat berkeliarannya orang den mahluk halus jahat. Kemungkinan si kakek berada sedikit di luar tempat untuk memantau keadaan.”

“Atap Langit! Dimana itu Kek?”Tanya Sakuntaladewi.

“Satu tempat diam-diam di atas puncak Gunung Semeru. Kabarnya di sana ada satu tempat yang dikuasai dan banyak berkeliaran mahluk jahat dari alam dunia maupun alam gaib. Di situ mereka mengatur segala hal yang ada sangkut pautnya dengan kejahatan yang akan mereka lakukan. Sulit bag! insan biasa masuk ke dalam tempat itu.”

“Aku akan pergi ke sana. Mencari si Embah Buyut! Sebelum matahari karam niscaya sudah kembali ke sini bersama kakek sakti itu.”Kembali Jaka Pesolek berkata.

“Aku ikut bersamamu!”Kata Sakuntaladewi alias Dewi Kaki Tunggal.

Tiba-tiba di luar ruangan satu cahaya kelabu berkelebat. Disusul bunyi orang berucap.

“Kenapa mempersusah diri jauh-jauh mencariku? Aku sudah berada di dekat kalian. Bawalah cowok malang berambut panjang itu ke hadapanku. Akan kuobati dan niscaya sembuh. Semoga Para Dewa menolong den memberi berkat.”

Semua orang, termasuk Empu Semirang Biru yang berada dalam ikatan rantai besi sama-sama palingkan kepala. Di luar Ruang Segi Tiga Nyawa tampak berdiri seorang kakek bersorban dan berjubah kelabu. Wajahnya walau jernih namun menyiratkan kekawatiran.

“Dewa Agung!”Seru Empu Semirang Biru. “Kuasa Para Dewa membawa Embah Buyut Kumara Gandamayana ke tempat ini.”

Ratu Randang terlonjak kaget tapi juga gembira. Dia perhatikan orang renta di luar ruangan kemudian berucap. “Memang dia. Kakek itu yang sebelumnya menolong diriku,”

“Lekaslah, waktuku tidak lama.”Embah Buyut Kumara Gandamayana berkata sambil melambaikan tangan.

Empat orang yaitu Sakuntaladewi, Ratu Randang, Jaka Pesolek dan Kunti Ambiri segera menggotong Wiro yang dikala itu berada dalam keadaan masih berlutut.

Empu Semirang Biru menarik nafas lega. Tiba-tiba orang renta ini mencium basi aneh. Lantai yang didudukinya terasa bergetar. Lalu ada bunyi mengiang di indera pendengaran kirinya. Wajah sang Empu berubah, kening mengerenyit. Dia hendak menyampaikan sesuatu, tapi empat orang yang menggotong Wiro sudah berada di luar dinding Ruang Segi Tiga Nyawa sebelah kanan.

Selagi tubuhnya digotong, dalam keadaan setengah sadar Wiro bisa memaksakan membuka sedikit sepasang matanya yang semenjak tadi terpicing.

Walaupun samar pandangan matanya pribadi membentur sosok kakek bersorban dan berjubah kelabu. Murid Sinto Gendeng kedipkan perlahan sepasang mata. Karena tidak membutuhkan kekuatan tenaga dalam yang banyak, beliau masih bisa menerapkan ilmu Menernbus Pandang, Mendadak saja beliau menjadi tegang. Di dalam sosok si orang renta bersorban den berjubah kelabu beliau melihat sosok seorang lain. Memandang menyeringai menakutkan ke arahnya, memperlihatkan taring merah di sudut mulut!

“Gusti Allah….”Wiro mengucap.DUAKITA tinggalkan dulu Pendekar 212 yang tengah digotong menemui sosok kakek bersorban dan berjubah kelabu. Kita menuju ke satu tempat sangat diam-diam di puncak Gunung Semeru, tempat asing yang keberadaannya mengambang di udara dan disebut sebagai Atap Langit. Banyak tokoh rimba persilatan mengetahui atau mendengar nama Atap Langit namun hanya satu dua orang saja yang pernah dan bisa memasuki tempat tersebut, Konon di Atap Langit banyak berkeliaran mahluk halus yang muncul dalam banyak sekali ujud, termasuk arwah sesat dan roh gentayangan.

Saat itu tengah hari tepat. Sang surya memancar terang benderang dan sangat terik. Namun d tempat Atap Langit suasana selalu redup mendung, Sinar matahari seolah tidak bisa menembus adanya lapisan udara berkekuatan asing yang menyungkup tempat di arah delapan penjuru angin. Bahkan hembusan anginpun tidak pernah menyapu tempat Atap Langit! Setiap bands yang ada di tempat itu mirip tanah, pepohonan dan bebatuan selalu diselimuti cairan yang sesekali mengepulkan asap menebar hawa masbodoh mengiris tulang sumsum.

Ketika di langit sebelah utara memancar sinar kebiruan, menukik ke bumi mirip bintang jatuh, dari arah selatan lereng Gunung Semeru berkelebat satu bayangan merah. Gerakan mahluk ini cepat sekali hingga dalam waktu singkat beliau sudah berada di puncak gunung, berdiri di satu tebing watu lancip licin. Ternyata mahluk ini yaitu seorang kakek berjubah dan mengenakan belangkon merah. Di sebelah depan belangkon tersemat sebuah hiasan terbuat dari suasa muda atau perunggu berbentuk bintang bersudut delapan. Dari warna sepasang mata, rambut, kumis, janggut dan cambang bawuk tipis serta sepasang alis berwarna merah sudah faktual kalau mahluk ini yaitu momok arwah paling ganas dan ditakuti di Bhumi Mataram yaitu Sinuhun Merah Penghisap Arwah.

Sementara tangan kiri berkacak pinggang, di tangan kanan Sinuhun Merah Penghisap Arwah memegang sebuah piala perak yang mempunyai delapan cantelan.

Pada setiap cantelan tergantung sebuah cangkir perak.

Sepintas dua kaki Sinuhun Merah Penghisap Arwah tampak mirip menapak watu lancip di atas tebing. Namun jikalau diperhatikan ternyata sepasang telapak kaki itu menggantung atau mengambang di udara, seujung kuku di atas tebing watu yang berair dan licin!

Ketika di langit sebelah utara menyala selarik sinar kuning kemerahan, Sinuhun Merah Penghisap Arwah dongakkan kepala. Lalu verbal berucap lantang.

Penguasa Kawasan Atap Langit! Aku Sinuhun Merah Penghisap Arwah mahluk alam roh. Aku kembali tiba selaku utusan seorang putra Bhumi Mataram berjulukan Dirga Purana yang disebut Sang Junjungan yang kesaktiannya ikut mendulang tempat Atap Langit. Aku tiba membawa Sesajen Atap Langit yang telah diramu oleh Sang Junjungan untuk delapan anak kucing jantan sakti peliharaannya. Tiga dari anak kucing itu tengah menghadapi sekarat akhir tebasan senjata berupa kapak bermata dua sakti mandraguna yang berasal dari alam delapan ratus tahun mendatang! Aku mohon nampan perak siap mendapatkan Sesajen Atap Langit, Aku mohon Penguasa Atap Langit mau menyelamatkan nyawa tiga anak kucing merah sakti yang terluka parah. Ika Penguasa Atap Langit tidak turun tangan maka nyawa mereka tidak tertolong. Dunia arwah dan alam roh akan dilanda kegoncangan dahsyat. Langit bisa runtuh, bumi bisa tenggelam. Aku mohon Penguasa Atap Langit membawa delapan anak kucing jantan berbulu merah tiba untuk menyantap, Sesajen Atap Langit. Kembalikan kesaktian mereka secara utuh hingga tiba dikala pemberian Sesajen Atap Langit berikutnya.

Aku mohon Penguasa Atap Langit mau membuka Pintu Gerbang Atap Langit.

Izinkan saya masuk dengan segera! Mohon maaf lantaran waktuku tidak lama!”

Baru saja Sinuhun Merah Penghisap Arwah selesai berucap lantang tiba-tiba di langit memancar kembali sinar kuning kemerahan. Udara bergetar disusul bunyi dari mahluk yang ujudnya tidak kelihatan.

“Tiga Pengawal Atap Langit! Periksa dengan penciumanmu, lihat dengan matamu. Apa benar mahluk yang tiba yaitu Sinuhun Merah Penghisap Arwah dari Kerajaan Bhumi Mataram! Bukan mahluk jejadian yang menyamar untuk maksud jahat!”

Laksana petir menyambar tiga benda hitam besar berujud kelelawar raksasa entah dari mane munculnya tahu-tahu telah melayang mengitari sosok Sinuhun Merah Penghisap Arwah yang tegak mengambang di atas tebing watu puncak Gunung Semeru. Tiga pasang sayap lebar mengepak menebar basi busuk. Tiga pasang mate pancarkan cahaya merah, menyapu di atas kepala den tubuh Sinuhun.

Hidung menyedot dalam-dalam.

Sinuhun Merah Penghisap Arwah damai saja, Kepala masih terus mendongak.

Sebelumnya beliau sudah mengalami hal mirip ini sebanyak due kali. Yaitu setiap beliau mengantar Sesajen Atap Langit untuk memperpanjang kesaktian diam-diam yang ada dalam tubuh delapan anak kucing merah yang dikenal dengan name Delapan Sukma Merah.

“Blaarrr! Blaarrr! Blarr!”

Tiga letusan menggelegar disertai berkiblatnya tiga larik sinar merah. Lalu sunyi sesaat. Dalam kesunyian kemudian terdengar tiga bunyi anch berucap bersamaan.

“Penguasa Atap Langit! Kami telah melihat. Kami Tiga Pengawal Atap Langit bersaksi bahwa kepala den tubuh itu yaitu benar kepala den tubuh Sinuhun Merah Penghisap Arwah. Kami telah mencium. Kami Tiga Pengawal Atap Langit bersaksi bahwa roh dalam ujud mahluk berbelangkon den berjubah merah di puncak Gunung Semeru benar yaitu roh Sinuhun Merah Penghisap Arwah. Kami mencium! Darah arwah yang mengalir di dalam ujud mahluk. itu benar yaitu darah Sinuhun Merah Penghisap Arwah.”

“Melihat belum berarti menyaksikan kebenaran. Tiga Pengawal Atap Langit lakes beri tahu aku! Aku ingin kepastian kunci! Apa kelainan yang terdapat dalam tubuh Sinuhun Merah Penghisap Arwah!”Suara mistik yang menggetarkan udara menggelegar. Suara mahluk tak kelihatan ujud yang disebut sebagai Penguasa Kawasan Atap Langit.

“Biarr! Blaarr! Blaar!’

Tiga letusan kembali menggelegar dan tiga cahaya merah menyusul berkiblat.

Lalu terdengar tiga bunyi asing tadi memperlihatkan jawaban.

“Penguasa Atap Langit! Kami Tiga Pengawal Atap Langit melihat kelainan yang ada dalam tubuh roh Sinuhun Merah Penghisap Arwah. Jantungnya berada di sebelah kanan, bukan di sebelah kiri!”,

“Pemeriksaan selesai! Tiga Pengawal Atap Langit kalian boleh kembali!”

Tiga pasang sayap mengepak keras. Bau basi kembali menebar. Cahaya merah terang pada, tiga pasang mata meredup. Hidung menghembuskan tiupan nafas panjang. Tiga mahluk berbentuk, kelelawar raksasa menguik keras kemudian berputar dua kali. Pada putaran ke tiga mereka menukik ke bawah den lenyap di balik kabut yang mulai muncul menutupi tempat puncak Gunung Semeru.

Sesaat kemudian terdengar bunyi Penguasa Atap Langit.

“Sinuhun Merah Penghisap Arwah, terakhir kali kamu tiba kamu membawa Sesajen Atap Langit berupa delapan jantung bayi lelaki. Katakan padaku, kali ini Sesajen Atap Langit apa yang kamu bawa untuk delapan anak kucing jantan merah sakti peliharaan Dirga Purana!”

Penguasa Atap Langit, sesajen yang kubawa kali ini yaitu sumsum delapan bayi lelaki yang telah dicairkan menjadi susu.”

“Hemmm ….”Terdengar bunyi bergumam. Di susul ucapan keras. “Sinuhun Merah Penghisap Arwah! Sebelum Pintu Gerbang Atap Langit dibuka, perlihatkan pada diriku bahwa kamu tidak juga membawa Sesajen Penyanding Sesajen Atap Langit!”

Tangan kiri Sinuhun Merah Penghisap Arwah yang semenjak tadi berkacak pinggang bergerak ke balik jubah merah, mengeluarkan sebuah kantong kain merah bergambar bintang kuning berujung delapan pada dua sisinya.

“Penguasa Atap Langit, Sesajen Penyanding sudah ada dalam genggamanku.

Mungkin ada sesuatu yang hendak kamu tanyakan lagi?”Bertanya Sinuhun Merah Penghisap Arwah.

“Katakan ape isi kantong kain merah itu!”Mahluk tak kelihatan ujud bertanya.

“Lima puluh keping uang emas! Due puluh butir permata mutu manikam! Tiga puluh lentingan rokok daun jagung yang sudah diisi dengan candu dari negeri Cina! Mohon Penguasa Atap Langit bersedia menerima!”

Di udara berkabut di puncak Gunung Semeru terdengar bunyi tawa bergelak disusul ucapan. “Aku bersedia menerima! Lemparkan ke udara kantong kain itu!”

Dengan cepat tangan kiri Sinuhun Merah Penghisap Arwah melemparkan kantong kain ke udara. Seperti ada kekuatan yang menyedot, kantong kain tertarik ke atas dan sekejapan saja telah lenyap dari pandangan mata. Sesaat kemudian terdengar bunyi berderak. Batu di bawah kaki Sinuhun Merah Penghisap Arwah bergetar.

“Wusss!”

Belasan tombak di hadapan Sinuhun Merah Penghisap Arwah muncul dua buah dinding watu yang secara cepat bergerak membuka ke samping kiri dan kanan, “Sinuhun Merah Penghisap Arwah! Pintu Gerbang Atap Langit sudah dibuka!

Kau diperkenankan masuk!”

Tidak menunggu lebih lama Sinuhun Merah Penghisap Arwah segera melesat memasuki pintu watu yang dengan cepat bergerak menutup kembali.

Hanya sejengkal lagi dua dinding watu akan menutup rapat tiba-tiba satu benda kelabu laksana ular besar melesat di udara, kemudian dess! Bergulung mengganjal Pintu Gerbang Atap Langit. Benda itu ternyata yaitu segulung sorban!TIGADUA dinding watu Pintu Gerbang Atap Langit yang terganjal sorban kelabu bergetar hebat. Kabut yang menyungkup buyar bertebaran dan lenyap hingga keadaan di tempat itu kini kelihatan lebih terperinci walau mendung masih terus meredupi, Udara mendadak menyentak pengap.

“Pengawal Atap Langit! Ada mahluk hendak berbuat jahat! Hancurkan benda yang mengganjal Pintu Atap Langit!”Di langit terdengar bunyi teriakan lantang Sang Penguasa Kawasan Atap Langit.

Kejap itu juga di udara muncul kembali tiga mahluk berbentuk kelelawar raksasa. Tiga hewan ini pribadi melesat ke arah sorban kelabu. Mulut menguik keras. Dari dalam verbal meluncur keluar pengecap panjang merah mengepulkan asap panas. Dua ekor burung yang terpesat melayang di udara, begitu berada satu tombak, di depan juluran tiga pengecap panjang pribadi terbakar musnah!

“Wuutt!”

Tiga pengecap panjang menyambar sorban yang mengganjal pintu.

Kobaran api berkiblat.

Tapi!

“Dess! Desss! Desss!”

Tiga kelelawar besar terpental ke atas dan keluarkan bunyi meraung mirip lolongan anjing. Lidah mereka nampak mengepul dan berubah dari merah menjadi hitam.

“Kurang ajar!”Terdengar makian Penguasa Atap Langit. Pengawal Atap Langit! Serang benda yang mengganjal pintu dengan Panah Sukma Api! Aku akan meminta semua arwah di tempat ini untuk membantu!”

Diatas puncak Gunung Semeru mendadak terdengar bunyi raungan riuh. Itu membuktikan semua mahluk alam roh yang ada di Kawasan Atap Langit telah mendengar kata-kata Sang Penguasa.

Tiga pasang mata merah kelelawar raksasa mencuat keluar. Begitu mata dikedipkan, enam panah dikobari api melesat ke arah gulungan sorban kelabu yang mengganjal Pintu Atap Langit.

Enam dentuman keras menggelegar.

Udara bergetar. Pintu Gerbang Atap Langit bergoncang.

Sorban kelabu di antara dua dinding watu karam dalam kobaran api, musnah berubah jadi kepulan asap. Greekk! Pintu Gerbang Atap Langit yang tadi tidak bisa menutup akhir ganjalan sorban kelabu kini bertaut rapat dan tertutup.

Di puncak timur Gunung Semeru yang barbatasan dengan Kawasan Atap Langit seorang kakek berjubah kelabu tegak tertegun sambil memegang dada.

“Hyang Jagat Bathara Dewa, mohon ampun saya bertindak terlambat. Mohon maaf ilmu kepandaian saya mash berada di bawah mereka. Yang saya kawatirkan yaitu orang-orang dan benda sakti yang ada dalam Ruang Segi Tiga Mayat.

Tolong mereka, lindungi mereka…”

Kakek berjubah kelabu angkat tangan kanannya, di arahkan ke Pintu Gerbang Atap Langit yang mulai tampak samar. Sebelum ujud Pintu Gerbang lenyap kakek ini dengan cepat sentakkan tangan kanan.

“Wuutt!”

Sorban yang telah musnah dibakar kobaran enam Panah Sukma Api menampakkan diri kembali, melesat ke arah si kakek, pribadi bergulung diatas kepalanya. Walau bisa mendapatkan sorbannya kembali namun tak urung dua kaki si kakek tampak tertekuk goyah dan sekujur tubuh bergetar.

Siapa gerangan adanya kakek ini? Dia bukan lain orang renta sakti yang telah menolong Ratu Randang yang oleh Empu Semirang Biru disebut sebagai Embah Buyut Kumara Gandamayana.

Ketika siap hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba di sekitarnya terdengar bunyi anak kucing mengeong keras tapi ujudnya tidak kelihatan. Kagetnva si kakek bukan alang kepalang lantaran mendadak saja dua kakinya tak bisa bergerak!

Ketika beliau memandang ke bawah, astaga! Dua kakinya ternyata telah dilibat gulungan rantai besi berwarna merah.

“Rantai Kepala Arwah Koki Roh,”ucap si kakek yang rupanya mengenali dan tahu nama rantai. Rental inilah yang telah memberangus tubuh Empu Semirang Biru hingga hanya bisa duduk bersila di dalam Ruang Segi Tiga Nyawa. “Ini niscaya pekerjaan anak lelaki berjulukan Dirga Purana pemilik Delapan Sukma Merah delapan anak kucing itu!”Walau darahnya berdesir namun beliau tetap berlaku tenang. Dua telapak tangan dikembang ke arah bawah. Tenaga dalam den hawa sakti dialirkan hingga dart sepuluh ujung jari memancar cahaya kelabu.

“Rantai Kaki Arwah Kepala Roh!”Si kakek berteriak sengaja menyebut terbalik name rental merah. Agaknya ada maksud tertentu beliau berucap mirip itu.

Karena kemudian beliau kembali berteriak. “Arwah Penangkal! Tunjukkan yang putih itu putih! Yang benar itu benar!”

Dua tangan dihentakkan ke bawah.

“Dess! Dess!”

“Blaarr!”

Si kakek sanggup menggerakkan kedua kaki namun rantai besi merah masih mengikat kedua kakinya walau kini sedikit agak longgar. Tidak menunggu lebih lama beliau segera melompat ke udara. Setengah jalan beliau berjungkir, kaki ke atas kepala ke bawah. Lalu wuuuttt! Tubuh orang renta itu melesat ke bawah Gunung Semeru.

“Aku harus mencari cowok dari alam delapan ratus tahun mendatang itu.

Hanya beliau yang mempunyai kemampuan menghadang dan menghancurkan kekuatan Penguasa Atap Langit. Hanya beliau yang bisa menghadapi Delapan Sukma Merah.”

Suara ngeongan anak kucing mendadak kembali terdengar. Kali ini disertai dengan melesatnya delapan ujud samar berwarna merah. Embah Buyut Kumara Gandamayana mendengus. Mulut berucap.

“Kalian belum mendapatkan Sesajen Atap Langit! Kalian tidak punya kekuatan! Kesaktian kalian mengapung di udara! Kalian bahu-membahu yaitu ganjalan nyawa mahluk terkutuk. Kalian tidak akan bisa menyerangku! Pergi!”

Orang renta itu tanggalkan sorban kelabunya kemudian dikebut ke arah delapan bayangan samar anak kucing merah.

“Wuuutt!”

Satu gelombang angin memancarkan cahaya kelabu menderu.

“Ngeooong!”

Delapan sosok samar anak kucing merah mental ke udara.****Di KAWASAN Atap Langit di atas puncak Gunung Semeru, Sinuhun Merah Penghisap Arwah memaklumi sesuatu telah terjadi.

“Ada mahluk yang coba menghalangi tertutupnya Pintu Gerbang Atap Langit.

Pasti hendak berusaha menyusup masuk ke dalam.”Sinuhun yang bahu-membahu yaitu mahluk dari alam roh ini menyeringai. “Siapa yang sanggup menantang kekuatan Delapan Sukma Merah! Siapa yang bisa melawan Penguasa Atap Langit yang punya ratusan anak buah mahluk alam arwah! Tapi saya mulai mencurigai kekuatan dan kesaktian Sang Penguasa.”

Laksana terbang Sinuhun Merah Penghisap Arwah melesat ke arah timur Kawasan Atap Langit. Setelah melewati sekian banyak gumpalan gumpalan awan kelabu, begitu matanya melihat hamparan sembilan watu besar hitam den berair mengambang di bawah sane die segera menukik turun. Delapan watu tersebar begitu rupa membentuk bundar mengelilingi watu ke sembilan yang disebut Batu Atap Langit. Di atas watu besar ke sembilan ini terletak sebuah nampan atau baki mempunyai delapan kaki berupa kaki hewan dengan cakar mencuat, terbuat dari perak putih berkilau.

Seperti diketahui dikala itu siang hari dan sang surya memancarkan sinarnya yang terik. Namun di tempat itu keadaan redup temaram. Udara terasa berair dan ada hawa masbodoh asing menyembur dari dalam tanah.

Begitu menjejakkan kaki di atas watu ke sembilan, Sinuhun Merah Penghisap Arwah merasa ada hawa masbodoh keluar dari batu, masuk ke dalam tubuh yang membuat dua kakinya bergetar. Otaknya serasa beku. Sinuhun Merah Penghisap Arwah tertegun kaget den marah.

“Kurang ajar! Bagaimana mungkin ada mahluk jahanam bisa tembus masuk ke tempat ini!”

Sinuhun Merah Penghisap Arwah memandang berkeliling. Dia melihat ada bayangan warna kebiruan di balik salah satu delapan watu yang mengelilingi watu ke sembilan. Dari arah itu datangnya hawa luar biasa dingin. Tidak tunggu lebih lama beliau segera angkat kepala. Delapan benjolan merah di kening pancarkan cahaya terang siap untuk melancarkan serangan Delapan Arwah Sesat Menembus Langit. Namun sebelum delapan cahaya merah keluar dari delapan benjolan tibatiba terdengar bunyi Penguasa Atap Langit.

“Sinuhun Merah Penghisap Arwah! Kawasan Atap Langit yaitu daerah kekuasaanku! Apapun yang terjadi tidak seorang lain boleh turun tangan. Kau dihentikan mengakibatkan kerusakan di sini! Batalkan seranganmu! Biar para Pengawal Atap Langit menangani masalahmu!”

“Penguasa Atap Langit!” Sinuhun Merah menyahuti, “Aku rasa kemampuanmu sudah jauh berkurang. Bagaimana ada mahluk lain bisa menyusup masuk ke dalam tempat kekuasaanmu?”

“Bisa masuk tak ada artinya kalau tidak bisa keluar!”Penguasa Atap Langit kemudian berteriak memanggil Pengawal. Tiga kelelawar raksasa segera muncul kemudian melesat ke arah watu besar yang dibaliknya kelihatan sinar biru.

“Plaak … plaak!”

Enam sayap mengepak. Enam cahaya hitam menerpa watu besar. Saat itu juga dari balik watu memancar cahaya biru legam dibarengi bunyi jeritan keras.

Sesosok tubuh mengapung di udara dalam keadaan gosong, sulit dikenali siapa adanya.

Tiga kelelawar hitam menguik keras, berputar due kali kemudian melesat lenyap.

“Penguasa Atap Langit! Aku tidak mengenali mahluk itu. Harap kamu memberi

tahu siapa beliau adanya!”

Di udara redup terdengar bunyi tertawa bergelak Sang Penguasa.

“Kau telah menyaksikan kehebatan pare Pengawal Atap Langit. Jangan ada yang berani mencurigai kekuatan den kuasa kami pare mahluk Atap Langit. Siapa mahluk yang telah menemui kematian dalam keadaan gosong itu, itu bukan urusanmu.

Harap kamu mawas diri. Di alam faktual dan di alam mistik kamu sudah terlalu banyak musuh! Kau harus bersyukur saya masih memberi kesempatan bagimu untuk melaksanakan upacara Sesajen Atap Langit! Kalau tidak nyawamu sudah terpecah di delapan penjuru angin! Sampaikan hal itu pada Junjunganmu anak lelaki berjulukan Dirga Purana! Aku menghormatinya tapi jangan ada anak buahnya berani menganggap rendah diriku! Atap Langit yaitu Negeri kekuasaanku, Atap Langit yaitu Kerajaanku! Sekarang cepat kamu melaksanakan pemberian Sesajen Atap Langit, Waktumu hanya tinggal sedikit. Begitu selesai cepat tinggalkan tempat ini!. Masih delapan mahluk lain yang menunggu pelaksanaan Sesajen Atap Langit!”

Rahang Sinuhun Merah Penghisap Arwah tampak menggembung. Telinganya terasa panes. Walau mulutnya ingin berteriak memaki namun beliau tidak bisa berbuat apa-apa selain melaksanakan apa yang dikatakan Penguasa Atap Langit.

“Jahanam, inilah kesalahan Kesatria Junjungan. Dia terlalu percaya hingga Penguasa Atap Langit tahu banyak wacana diri dan kekuatanku! Kalau tiba saatnya Kawasan Atap Langit akan saya musnahkan dengan Api Delapan Sukma Dewa!”EMPATSatu demi satu Sinuhun Merah Penghisap Arwah mengambil cangkir perak yang tergantung pada cantelan piala. Cangkir kemudian diletakkan diatas nampan perak, masing-masing gagang menghadap ke arah delapan watu yang mengelilingi.

Setelah lebih dulu berlutut di atas batu, mahluk alam roh yang berujud serba merah ini buka epilog piala. Dari dalam piala beliau kemudian menuangkan cairan putih ke dalam setiap cangkir perak. Setelah semua cairan putih yang konon yaitu sumsum belakang delapan bayi dituang dibagi rata hingga penuh hingga dua pertiga cangkir, Sinuhun Merah Penghisap Arwah lemparkan piala perak ke udara. Di satu tempat piala perak meledak, berubah jadi asap putih kemudian lenyap dari pemandangan.

Sinuhun Merah Penghisap Arwah letakkan dua telapak tangan di atas dada.

Dua jari tengah sengaja ditekuk sementara empat jari lain dari masing-masing tangan mengembang lurus. Kepala mendongak, mata dipejam. Perlahan-perlahan delapan jari tangan berubah merah, memancarkan cahaya.

Tak selang berapa lama kepingan watu dibawah delapan nampan perak diletakkan ikut memancarkan cahaya merah disertai kepulan asap. Lalu cairan sumsum di dalam cangkir menggelegak perlahan.

Bau asing ibarat basi kemenyan yang di bakar menebar di tempat itu.

Suasana menjadi bertambah menakutkan sewaktu di udara yang redup dan masbodoh di kejauhan terdengar bunyi panjang raungan anjing. Begitu gema bunyi raungan lenyap Sinuhun Merah Penghisap Arwah membuka verbal dan berseru.

“Penguasa Atap Langit!! Sesajen Atap Langit sudah disiapkan! Mohon Pintu Arwah dibuka. Izinkan Delapan Sukma Merah menyantap sesajen yang terhidang!”

Di Kawasan Atap Langit tidak pernah ada angin. Narnun dikala itu tiba-tiba terdengar bunyi menderu disertai hembusan angin keras. Jubah Merah Sinuhun Merah Penghisap Arwah berkibar kibar. Kumis, janggut dan rambut panjang dibawah belangkon merah bergeletar. Piala dan delapan cangkir perak bergoyang goyang.

Sembilan watu besar bergetar.

Tiba-tiba langit seolah terbelah. Dari celah belahan melesat turun delapan benda merah yang bukan lain yaitu delapan anak kucing merah. Binatang ini melesat demikian rupa kemudian melayang turun dan duduk di depan cangkir perak.

Sepasang mata merah terpentang lebar menatap tak berkesip ke arah cairan di dalam cangkir. Kuku kaki depan mencuat laksana pisau. Ekor berkibas-kibas.

Telinga mencuat ke bantalan dan pengecap menjulur tanda tidak sabaran untuk segera menjilat meneguk cairan sumsum. Jika diperhatikan, walau delapan anak kucing ini semua berbulu merah, namun tiga di antaranya mempunyai bulu berwarna lebih pekat, agak kehitaman. Tiga anak kucing ini setiap mengeong keras memancarkan cairan merah dari kedua mata mereka.

Sinuhun Merah Penghisap Arwah turunkan kepalanya yang semenjak tadi mendongak. Sepasang mata dibuka. Menyapu delapan anak kucing merah. Jika memperhatikan tiga anak kucing berbulu merah kehitaman, dada kanannya mendenyut sakit.

“Delapan anak kucing merah yang dengan hormat saya panggil dengan nama Delapan Sukma Merah! Penguasa Atap Langit telah membuka Pintu, Arwah!

Pertanda kalian telah mendapat izin. Silahkan menikmati Sesajen Atap Langit yang telah disediakan!”Seolah mengerti apa yang dikatakan Sinuhun Merah Penghisap Arwah, delapan anak kucing merah mendekati cangkir perak di hadapan masing-masing. Dua kaki depan mencengkeram, kepala dirundukkan kemudian terdengar bunyi mereka menjilat dan meneguk sumsum putih. Nyaris sekejapan saja sumsum putih di dalam cangkir serta merta habis tak bersisa. Delapan anak kucing merah mengeong keras. Tubuh memancarkan cahaya merah menyilaukan.

Seolah rasa haus belum terobat, rasa lapar belum pulih tiba-tiba mereka membuka verbal lebar-lebar kemudian greek… greekk … greeekkk! Delapan cangkir perak mereka kunyah mirip menyantap kerupuk!

Sinuhun Merah Penghisap Arwah terkejut.

“Pertanda buruk! Tidak pernah Delapan Sukma Merah berlaku serakus ini!”

Ucap sang Sinuhun dalam hati kemudian cepat beliau berteriak. “Delapan Sukma Merah!

Sesajen Atap Langit sudah kalian dapatkan! Kesaktian kalian sudah diperpanjang!

Saatnya untuk kembali menemui Satria Junjungan!”

Delapan anak kucing merah rundukkan kepala hingga dagu menempel di batu.

Mulut membuka lebar dan mata membeliak. Kuku kaki depan digerus ke atas watu hingga membuat guratan-guratan dalam yang dikobari api!

“Delapan Sukma Merah! Jangan merusak apa yang ada di Kawasan Atap Langit! Aku minta supaya kalian segera kembali menghadap Satria Junjungan Dirga Purana! Penguasa Atap Langit mohon Pintu Akhirat dibuka kembali!”

Seperti tadi mendadak menderu bunyi tiupan angin keras. Lalu di atas sana langit seolah terbelah membuka.

Delapan kucing merah mengeong keras. Mereka melesat ke arah Sinuhun Merah Penghisap Arwah, satu jengkal di atas kepala. Hal Ini cukup membuat Sinuhun Merah terkejut dan cepat rundukkan kepala. Ketika beliau memandang ke atas, delapan anak kucing merah telah meles memasuki celah langit.

“Sinuhun Merah Penghisap Arwah! Upacara Sesajen Atap Langit telah selesai.

Harap kamu segera meninggalkan tempat ini!”Di udara redup menggema bunyi Penguasa Atap Langit.

“Penguasa Atap Langit! Aku mengucapkan terima kasih. Akan saya sampaikan pada Sang Junjungan semua kebajikan yang telah kamu lakukan! Namun sebelum pergi saya mohon satu pertolongan.”

Udara di Kawasan Atap langit semakin redup.

“Sinuhun! Aku peringatkan padamu! Waktumu bahu-membahu sudah habis!”

“Penguasa Atap Langit! Aku mohon dengan sepuluh jari di atas kepala!”

Sinuhun Arwah Merah Penghisap Arwah susun sepuluh jari di atas kepala dan rundukkan tubuh.

“Kau benar-benar mau membuat, saya murka Sinuhun?!”

“Aku minta maaf dan saya minta ampun, Tapi saya sangat mengharap pertolongan. Aku mewakili Sang Junjungan!”

Terdengar bunyi bergumam marah. Lalu. “Katakan pertolongan apa yang kalian butuhkan!”

“Aku mohon supaya saya bisa menembus masuk ke dalam Ruang Segi Tiga Nyawa dimana Keris Kanjeng Sepuh Pelangi berada.”

Dalam ujudnya yang tidak kelihatan Penguasa Atap Langit tertawa bergelak.

“Caranya gampang saja!”

“Bagaimana caranya? Tolong saya diberi tahu!”

“Musnahkan delapan benjolan yang ada di keningmu dan semua pengikutmu!

Ha … ha … ha!”

“Keparat jahanam! Bagaimana mungkin saya dan yang lain-lain memusnahkan delapan benjolan yang jadi sumber kesaktian!”Sinuhun Merah Penghisap Arwah memaki dalam hati.

Seolah mendengar makian Sinuhun Merah, Penguasa Atap Langit membentak.

“Sinuhun, jangan berani memaki di Negeri Atap Langit. Sekalipun dalam hati!”

Tiba-tiba saja udara bergetar dan hawa menjadi pengap. Kaget Sinuhun Merah Penghisap Arwah bukan kepalang. Buru-buru beliau berkata.

“Penguasa Atap Langit, saya mau pergi, harap Pintu Gerbang Atap Langit segera dibuka!”

Saat itu juga di hadapan Sinuhun Merah Penghisap Arwah muncul kembali dinding watu yang dengan cepat kepingan tengahnya bergeser ke kiri dan ke kanan.

Tidak tunggu lebih lama Sinuhun Merah Penghisap Arwah melesat masuk ke dalam celah. Di lain kejap beliau telah berada lagi di puncak Gunung Semeru.

Namun kaget Sang Sinuhun bukan alang kepalang ketika memandang berkeliling dapatkan dirinya telah dikurung beberapa mahluk alam roh.

Mahluk pertama satu sosok menakutkan lantaran mulai dari kepala hingga ke kaki tertutup lapisan watu berlumut berwarna ungu.

“Jambal Ungu, mengapa kamu muncul di sini?”

Sinuhun Merah menyebut nama si mahluk yang bukan lain yaitu Raja Dukun Batu Berlumut. Seperti diketahui mahluk ini dulunya yaitu anak buah Sang Sinuhun yang kemudian menemui kematian dibunuh oleh Ratu Randang (baca episode sebelumnya berjudul Dua Nyawa Kembar).



Berpaling ke kiri Sinuhun Merah Penghisap Arwah jadi tersirap. Satu sosok buntung hanya berbentuk potongan pinggang dan kaki buntung tertatih-tatih bergerak mendekatinya.

“Ketua Jin Seratus Perut Bumi!”Ucap Sinuhun Merah. Tiba-tiba beliau merasa ada sambaran angin di belakangnya. Dengan cepat beliau berbalik. Sinuhun Merah terkesiap, tampang berubah, Dihadapannya, hanya terpisah dalam jarak beberapa langkah merunduk seekor anjing betina berperut besar membuktikan tengah hamil berat. Sepasang mata menatap menyala.

“Sri Padmi Kameswari….”Suara Sinuhun Merah terdengar bergetar perlahan.



Anjing betina angkat kepala kemudian meraung panjang. Mengenai riwayat Sri Padmi Kameswari sanggup dibaca kembali pada episode awal berjudul “Malam Jahanam Di Mataram”dan episode lanjutan “Sepasang Arwah Bisu”



“Kalian bertiga ada keperluan apa muncul berada di tempat ini!”Sinuhun Merah menegur.

“Hidup di alam roh lapis kedua tidak tenteram. Kami minta kamu mengembalikan kami ke dalam alam roh lapis kesatu.”Tiga mahluk di hadapan Sinuhun Merah menjawab berbarengan.

“Apa! Kalian sudah mati ya sudah! Aku tidak mungkin melaksanakan apa yang kalian minta!”

“Jika tidak mungkin maka kami minta rohmu sebagai pengganjal roh kami di alam roh lapis kedua!”Tiga makhluk kembali bicara secara bersamaan.

“Jangan bercanda! Kalian tahu tengah berhadapan dengan siapa!”Sinuhun Merah Penghisap Arwah mengancam. Delapan benjolan di kening pancarkan cahaya benderang.

Untuk kedua kalinya anjing betina bunting meraung. Kali ini selesai meraung terus menerjang Sinuhun Merah dengan serangan berupa dua cakaran kaki depan.

Mahluk buntung Ketua Jin Seratus Perut Bumi dan Raja Dukun Batu Berlumut tidak tinggal diam. Dua mahluk alam roh yang telah jadi korban keganasan Sinuhun Merah segera pula menyerbu!

“Mahluk sesat keparat! Kalian ingin saya benamkan di lapis tanah ke delapan!”

Teriak Sinuhun Merah Penghisap Arwah marah. Dia siap menyambut serangan lawan dengan pukulan tangan kiri kanan yaitu Delapan Sukma Merah.

“Sinuhun Merah! Mengapa harus repot! Biarkan saya yang memberi pelajaran pada tiga mahluk tidak tahu diri itu!”

Tiba-tiba ada orang berteriak. Lalu wusss!

Selarik sinar merah berkiblat disertai bunyi menggelegar mirip petir menyambar. Hawa panas menghampar di seantero tempat. Sebagian puncak Gunung Semeru karam dalam kobaran api. Sinuhun Merah Penghisap Arwah cepat menghindar dengan melompat hingga delapan tombak. Tiga jeritan menggelegar kemudian lenyap.

Sinuhun Merah Penghisap Arwah usap wajah hingga dua kali. Memandang ke

puncak gunung di arah kiri beliau melihat sosok Pangeran Matahari alias Kesatria Roh Jemputan tegak sambil memegang senjata Lentera Iblis.

“Jahanam dari alam roh delapan ratus tahun mendatang itu!”Maki Sang Sinuhun. Dia tiba-tiba muncul di sini. Apa beliau sungguhan hendak menolong saya atau punya maksud tersembunyi bahu-membahu hendak menghabisiku!”

“Kesatria Roh Jemputan! Terima kasih kamu telah menolong diriku! Lekas kembali ke Bhumi Mataram! Pekerjaan besar menunggu!”Sinuhun Merah kesannya berteriak. Lalu tanpa menunggu tanggapan Pangeran Matahari beliau tinggalkan puncak Gunung Semeru.LIMAKEMBALI ke Ruang Segi Tiga Nyawa di bawah Candi Plaosan Lor. Seperti diceritakan sebelumnya dalam serial terdahulu berjudul “Delapan Sukma Merah”, ketika berada di halaman Candi Kalasan tiba-tiba ada sinar kuning melesat dari langit. Sinar melingkari tanah tempat Jaka Pesolek berdiri kemudian naik ke atas membungkus tubuh dan kepala si gadis. Sesaat kemudian tubuh Jaka Pesolek amblas lenyap masuk ke dalam tanah.

“Ada yang menculik Jaka Pesolek!”Wiro berteriak kaget. Ini niscaya pekerjaan dua Sinuhun keparat!”Setelah berpesan pada Ratu Randang dan Dewi Ular supaya jangan kemana-mana dan tetap menunggunya di tempat itu Wiro dengan mengandalkan ilmu gres yang didapat dari kakek sakti Kumara Gandamayana masuk ke dalam tanah mengejar Jaka Pesolek.

Dugaan Wiro bahwa Jaka Pesolek diculik oleh dua Sinuhun jahat ternyata keliru. Sesuai keterangan Jaka Pesolek pada Empu Semirang Biru sehabis masuk ke dalam tanah, beliau merasa heran lantaran beliau merasa mirip berada di alam terbuka. Lalu beliau melihat seberkas cahaya kuning disertai gema lonceng di kejauhan. Cahaya kuning bergerak ke depan. Jaka Pesolek mengikuti hingga kesannya hingga di Ruang Segi Tiga Nyawa. Menurut Empu Semirang Biru ternyata Jaka Pesolek telah ditolong oleh anak sakti Mimba Purana yang dikenal dengan sebutan Satria Lonceng Dewa.

Wiro yang berusaha mengejar lantaran kawatir akan keselamatan Jaka Pesolek terpaut jauh lebih dari tiga puluh tombak di belakang si gadis. Sewaktu sayupsayup beliau mendengar bunyi lonceng dan bayangan samar cahaya kuning di kejauhan, lantaran tidak tahu di arah mana beradanya Jaka Pesolek maka Wiro mengejar ke jurusan beliau mendengar bunyi lonceng dan melihat cahaya kuning samar.

Di satu tempat dimana lapisan tanah berubah dari coklat kehitaman menjadi merah kehitaman Wiro hentikan lari ketika mendadak beliau merasa ada sambaran angin dari arah depan. Dia memperhatikan, astaga! Di hadapannya terlihat satu pemandangan aneh.

“Satu…dua…tiga…”Wiro menghitung hingga delapan. Sepasang mata tidak berkesip. “Delapan anak kucing berbulu merah! Ada benjolan di kening!”Wiro ingat sebelumnya pernah beberapa kali mendengar bunyi ngeongan kucing. “Apa binatang-binatang ini yang mengeong? Dari perilaku mereka tampaknya mereka sengaja menghadang jalanku.”

Delapan anak kucing berbulu merah di dalam lapisan tanah di bawah tempat Candi Plaosan Lor duduk mencangkung, berjejer dari kiri ke kanan. Delapan pasang mata menyorot tak berkedip ke arah Wiro. Perlahan lahan verbal menyeringai memperlihatkan pengecap panjang serta taring runcing. Telinga panjang mencuat ke atas. Tiba-tiba didahului ngeongan keras, delapan anak kucing merah melompat menyerbu. Saat itulah Wiro melihat seluruh kuku yang dimiliki delapan anak kucing itu mencuat keluar ibarat pisau besar, tajam dan runcing berwarna merah. Cakar Sukma Merah!

Menghadapi delapan musuh yang berbentuk insan atau mahluk jejadian bukan hal yang menakutkan bagi Pendekar 212 Wiro Sableng. Tapi diserang delapan anak kucing gres sekali ini dialaminya seumur hidup. Dalam hati ada perasaan tidak tega untuk menyakiti apa lagi hingga membunuh hewan itu. Hal ini membuat sang pahlawan berlaku ayal. Ketika delapan anak kucing semburkan cahaya merah dari benjolan di kening masing-masing, Wiro tersentak kaget.

Pandangan matanya silau. Selagi beliau berusaha melompat mundur, lima cakaran menyambar.

“Brett! Brettt!”

Beberapa sambaran Cakar Sukma Merah berhasil dihindari Wiro walau bajunya robek-robek. Ketika delapan cahaya merah kembali melesat dari benjolan di kening delapan anak kucing, dua sambaran Cakar Sukma Merah menyerempet dada, tiga menggores wajah!

Walau cuma luka berbentuk gesekan namun racun yang dikandung benar-benar jahat. Saat itu juga Wiro merasa aliran darahnya menjadi panas, pemandangan menggelap dan dua kaki goyah lemas. Dengan langkah terhuyung-huyung beliau coba berjalan ke arah cahaya, terang kemerahan jauh di depan sana. Namun delapan anak kucing kembali melancarkan serangan.

Wiro membentak keras. Tangan kanan didekatkan ke muka, telapak dikembang kemudian beliau meniup. Kejapan itu juga, di atas telapak tangan kanan terpampang gambar kepala harimau putih bermata, hijau. Ketika, Wiro menghantarkan tangan Kanan ke arah delapan kucing yang menyerang, didahului bunyi auman harimau selarik sinar putih disertai dua jalur sinar hijau menderu keras. Seantero tempat bergeletar. Tanah berguguran.

“Ngeonggg!”

Tiga ekor anak kucing terpental ke bantalan kemudian jatuh terkapar di tanah. Anehnya mereka tidak kelihatan cidera. Hanya sepasang mata tampak mengeluarkan cairan merah dan bulu mereka yang semula merah terang kini berkembang menjadi merah gelap kehitaman. Namun demikian ketiga, hewan ini hanya bisa gerakkan kepala sedikit, mengeong pendek, megap-megap kemudian melosoh tak berkutik.

Melihat apa yang terjadi dengan tiga mitra mereka, lima anak kucing lainnya mengeong keras kemudian tiga diantaranya dengan cepat melompat dan menggigit kuduk tiga teman mereka yang cidera. Ketika Wiro memandang berkeliling dan siap hendak melepas lagi Pukulan Harimau Dewa semua anak kucing tak ada lagi di tempat itu

“Celaka, apa yang terjadi dengan diriku. Tubuhku panas, kakiku lemas. Ada racun ganas dalam tubuhku…”Meski pandangan matanya mulai samar namun Wiro masih bisa melihat sinar terang merah di kejauhan. Yang dilihatnya itu yaitu Ruang Segi Tiga Nyawa dimana Ratu Randang, Kunti Ambiri, Jaka Pesolek dan Sakuntaladewi berada bersama Empu Semirang Biru. Wiro merasa heran. Kapak Naga Geni 212 yang ada dalam tubuhnya serta hawa sakti yang seharusnya bisa menumpas racun di dalam tubuhnya tampaknya tidak bekerja.

Dengan gerakan kaku dan berat Wiro totok beberapa kepingan tubuhnya. Lalu terhuyung-huyung beliau melangkah ke arah cahaya merah terang. Dia merasa mirip berjalan di gurun pasir dimana matahari seolah berada satu jengkal di atas kepala dan kaki laksana dipanggang. Ketika kesannya beliau berhasil mencapai cahaya merah terang dan masuk ke Ruang Segi Tiga Nyawa, Wiro pribadi roboh di lantai ruangan. Tenaganya terkuras habis. Tubuh berair oleh keringat bercampur darah yang keluar dari guratan luka di wajah dan dada.

Ratu Randang, Sakuntaladewi dan Kunti Ambiri yang ada dalam ruangan terpekik keras. Jaka Pesolek pribadi menubruk dan memeluk tubuh Wiro.

Ketika semua orang berusaha mencari jalan untuk menolong Wiro dan Jaka Pesolek serta Sakuntaladewi sama-sama bertekad untuk mencari Embah Buyut Kumara Gandamayana, tiba-tiba saja orang renta sakti itu muncul dan terlihat di luar Ruang Segi Tiga Nyawa.

“Kenapa mempersusah diri jauh-jauh mencariku! Aku sudah berada di dekat kalian. Bawalah cowok malang berambut panjang itu ke hadapanku. Akan saya obati dan niscaya sembuh. Semoga Para Dewa menolong dan memberi berkat.”

Begitu si orang renta berkata dari luar Ruang Segi Tiga Nyawa.

Ketika digotong, dalam keadaan setengah sadar Pendekar 212 Wiro Sableng berusaha membuka dua matanya yang semenjak tadi terpejam. Walau agak samar namun pandangan matanya ia pribadi membentur sosok kakek bersorban dan berjubah kelabu di luar Ruang Segi Tiga Nyawa. Otaknya masih bisa bekerja.

Mendadak saja beliau ingat kejadian Raja Mataram jejadian yang muncul di Candi Kalasan. Kali ini beliau juga merasa ada sesuatu yang tidak beres. Wiro kedipkan perlahan kedua matanya. Karena ilmu kesaktian yang hendak dikeluarkan tidak membutuhkan banyak kekuatan tenaga dalam beliau masih bisa menerapkan ilmu menembus Pandang.

Mendadak saja Wiro menjadi tegang. Di dalam sosok kakek bersorban dan berjubah kelabu beliau melihat sosok seorang lain. Memandang menyeringai menakutkan ke arahnya, memperlihatkan taring merah di sudut mulut!

“Gusti Allah “Wiro mengucap. Dia berusaha melepaskan diri dari pegangan ke empat orang yang menggotongnya namun tidak punya kekuatan. Sesaat kemudian tubuhnya sudah berada di luar Ruang Segi Tiga Nyawa, kemudian didudukkan orang di tanah.

“Eyang Sinto, mengapa jadi begini. Mengapa Eyang …”

Melihat raut wajah serta ucapan Wiro yang aneh, Kunti Ambiri bertanya.

“Wiro, kamu bicara dengan siapa?!”ENAMWIRO menatap lekat-lekat ke arah orang renta di depannya. Mulut berucap perlahan lantaran dada mulai terasa sesak.

“Ka … kakek itu Dalam tubuhnya ada ….”

Belum sempat Wiro menuntaskan ucapan tiba-tiba orang renta bersorban dan berjubah kelabu melompat ke hadapan Wiro. Namun yang bergerak ke depan ternyata hanyalah pakaian yang menempel di tubuhnya yaitu sorban kelabu, jubah kelabu dan kasut putih. Begitu seluruh pakaian tanggal, tubuhnya lenyap berubah jadi asap merah. Lalu dari balik kepulan asap menyelinap keluar satu sosok tinggi kurus dan hitam berambut putih jarang riap-riapan.

Di mata Wiro, sosok itu yaitu sosok gurunya Eyang Sinto Gendeng dalam ujud orisinil yaitu seorang nenek berkulit hitam kurus, wajah mirip tengkorak hidup lantaran hanya dilapisi kulit gelap tipis, batok kepala dihias empat tusuk konde perak. Pakaian lurik dan kain panjang hitam. Tubuh dan pakaian menebar basi pesing. Mulut pencong ke kanan dan ke kiri lantaran mengunyah susur. Namun ada kelainan pada verbal sang guru. Yaitu pada dua sudut verbal mencuat caling panjang runcing berwarna merah! Lalu di atas kening tampak delapan benjolan yang juga berwarna merah.

Rambut putih jarang riap-riapan berjingkrak di atas kepala di antara empat tusuk konde perak. Ketika si nenek menyeringai dan mengangkat dua tangannya, astaga! Wiro melihat delapan jari Eyang Sinto telah berubah berbentuk delapan pisau tajam warna merah. Jari tengah dilipat ke belakang.

Wiro tahu kalau Eyang Sinto selama ini berada di bawah kekuasaan Sinuhun Merah Penghisap Arwah dan otaknya telah dirasuki apa yang disebut ilmu hitam Delapan Jalur Arwah Pencuci Otak Tapi beliau benar-benar terkejut dan tidak menyangka begitu melihat keadaan sang guru yang mirip itu.

“Guru! Eyang… apa yang terjadi denganmu Eyang!”

Sinto Gendeng menyeringai. Lidah menjulur merah. Dua caling mencuat tambah panjang. Ketika nenek ini mengeluarkan suara, suaranya bukan bunyi manusia, tapi merupakan ngeong kucing yang keras menakutkan!

“Ya Tuhan!”Wiro kembali mengucap.

Kalau Wiro melihat sosok gurunya mirip itu, demikian juga yang disaksikan oleh Kunti Ambiri. Namun Jaka Pesolek, Ratu Randang dan Sakuntaladewi serta Empu Semirang Biru yang masih berada dalam Ruang Segi Tiga Nyawa yaitu semua orang yang berasal dari Bhumi Mataram melihat si nenek sebagai seorang gadis anggun bertubuh molek dan tubuh serta pakaian menebar basi wangi, bukan basi pesing!

“Wiro, hati-hati …. Waktu di Bukit Batu Hangus, gurumu hendak membunuhmu!” Ratu Randang memperingatkan. Kunti Ambiri dan Sakuntaladewi berjaga waspada.

Dari dalam Ruang Segi Tiga Nyawa Empu Semirang Biru yang sudah melihat gelagat tidak baik berteriak keras.

“Lekas bawa masuk cowok itu kembali ke dalam Ruang Segi Tiga Nyawa!”

Kunti Ambiri can tiga orang lainnya tersentak kemudian cepat bergerak menggotong Wiro kembali. Namun terlambat!

Delapan cahaya merah menyembur dari delapan benjolan di kening Sinto Gendeng. Ketika semua orang tersurut kesilauan sosok Sinto Gendeng melesat ke depan. Delapan jari berbentuk pisau berkelebat.

“Dess!”

“Reetttt!”

Ratu Randang menjerit keras. Kunti Ambiri berteriak. Jaka Pesolek tertegun dengan wajah pucat dan verbal terkancing. Hanya Sakuntaladewi yang bisa menguasai diri walau berada dalam keadaan sangat tegang.

Semua terjadi dengan sangat cepat. Disaksikan sekian banyak pasang mata yang terkesiap nyaris tak percaya, delapan jari tangan Sinto Gendeng yang ibarat pisau menggurat di tubuh Wiro mulai dari dada hingga ke pertengahan perut. Tak ada darah mengucur. Yang terlihat tubuh Wiro terkuak mengerikan demikian rupa di sebelah dada dan perut kemudian dua tangan Sinto Gendeng amblas masuk ke dalam tubuh sang murid. Pada dikala keluar lagi salah satu tangan memegang sebuah benda bersinar putih berkilau yang bukan lain yaitu Kapak Maut Naga Geni 212 yang selama ini memang berada di dalam tubuh sang pahlawan yaitu semenjak Kiai Gede Tapa Pamungkas memasukkan senjata sakti mandraguna itu ke dalam tubuhnya.

“Edan! Orang renta itu merampas Kapak Naga Geni Dua Satu Dua! Teriak Kunti Ambiri. Selama di alam delapan ratus tahun mendatang beliau tahu banyak kesaktian dan riwayat senjata ini.

Sinto Gendeng tertawa cekikikan. Mulut mengeluarkan bunyi mengeong.

Tangan kanan yang memegang kapak sakti dibabatkan setengah lingkaran.

“Wusss!”

Cahaya putih berkiblat disertai bunyi mirip ribuan tawon mendengung mengamuk. Hawa panas menghampar. Ruangan Segi Tiga Nyawa bergetar.

Beberapa kepingan dinding tanah merah berguguran. Kunti Ambiri dan tiga orang lainnya cepat jatuhkan diri di tanah. Di dalam ruangan Empu Semirang Biru terduduk pucat, beliau kirimkan serangan berupa tiupan ke arah Sinto Gendeng yang dilihatnya sebagai seorang gadis cantik. Namun jarak terlalu jauh. Selain itu dinding Ruang Segi Tiga Nyawa ikut menjadi penghalang.

Ketika semua orang di luar ruangan bangun berdiri kembali, Sinto Gendeng bersama Kapak Naga Geni 212 telah raib. Wiro terbaring tak bergerak dengan baju robek tersingkap dan di tubuh terlihat ada guratan memanjang mirip luka bertaut yang gres sembuh.

Ratu Randang dan Kunti Ambiri berusaha mengejar Sinto Gendeng namun dicegah oleh Empu Semirang Biru.

“Jangan dikejar. Kita semua telah tertipu. Yang tiba tadi arwah jejadian Embah Buyut Kumara Gandamayana. Sosoknya telah disusupi mahluk lain berujud gadis cantik. Semua ini terperinci pekerjaan dua Sinuhun dibantu anak berjulukan Dirga Purana.”

“Gadis tadi yaitu guru cowok ini.”Menerangkan Ratu Randang yang membuat Empu Semirang Biru terheran heran.

Kening Empu Semirang Biru mengerenyit, alis mencuat ke atas.

“Bagaimana mungkin guru semuda usia muridnya?” Ucapnya. Namun kemudian melanjutkan. “Tapi sudahlah! Di Bhumi Mataram semakin banyak keganjilan dan kita semua mungkin akan mati dalam keganjilan itu!”

“Empu, saya tidak bisa membiarkan orang mencuri senjata milik sahabatku ini.

Aku harus mengejar dan dapatkan senjata itu kembali.”Berkata Kunti Ambiri.

“Aku tetap melarang. Tapi terserah padamu.”Empu Semirang Biru menjawab.

“Kami bertiga juga akan ikut mengejar!”Kata Sakuntaladewi pula.

“Lalu siapa yang akan menolong cowok itu? Lalu siapa yang akan menyelamatkan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi yang masih menancap di atas sana?”

Hanya Kunti Ambiri yang tidak perdulikan ucapan Sang Empu. Sebelum pergi beliau mendekati Sakuntaladewi dan Ratu Randang serta Jaka pesolek kemudian berkata setengah berbisik.

“Diantara kita harus ada yang tahu dimana guru cowok itu berada dan kemana Kapak Naga Geni Dua Satu Dua dibawa. Kalau senjata itu tidak bisa dirampas, tunggu saja riwayat senjata makan tuan! Bukan hanya Wiro yang bakal menemui ajal, tapi kita semua bakal dibantai oleh dua Sinuhun!”

Ratu Randang, Sakuntaladewi dan Jaka Pesolek terdiam. Kunti Ambiri meneruskan ucapan.

“Nek Ratu, saya akan menyerahkan delapan Bunga Matahari kecil padamu.

Berikan pada Wiro jikalau beliau sudah siuman….”

“Bagaimana kalau beliau tidak pernah siuman tapi malah mati akhir racun jahat?!”Kata Jaka Pesolek polos-polos saja. Gadis ini pribadi bungkam ketika Kunti Ambiri, Ratu Randang dan Sakuntaladewi delikkan mata menatap ke arahnya.

Kunti Ambiri lanjutkan kata katanya. “Nek, jangan lupa memberikan pesan Nyi Loro Jonggrang pada Wiro. Aku pergi sekarang.”

Lalu gadis anggun alam roh ini keluarkan delapan Bunga Matahari kecil dari balik pakaian hijaunya dan diserahkan pada Ratu Randang. Ketika dia. hendak melesat ke atas, siap untuk pergi tiba-tiba Ratu Randang memeluknya erat-erat.

“Nek, kamu ini mengapa memelukku segala?”Tanya Kunti Ambiri.

“Ssttt, jangan bicara. Dengar, saya tahu kamu punya ilmu berjulukan membalik Mata Menipu Pandong….”

Kunti Ambiri terkejut.

“Eh Nek, dari mana kamu tahu….”

“Wiro yang menceritakan. Katanya kamu gadis hebat. Dengan ilmu itu katanya dulu kaul menyelamatkan diri sewaktu hendak dibunuh Wiro…”

“Lalu apa sangkut pautnya dengan kamu memelukku dikala ini?”Tanya Kunti Ambiri.

“Aku akan menambah kehebatan ilmu itu. Hingga kamu bisa merubah diri menjadi mahluk hidup apa saja supaya selamat dari segala macam maksud jahat mahluk lain.”Menjelaskan Ratu Randang.

“Tetapi saya tidak mau sepertimu. Berubah jadi anjing kemudian diperkosa …….”

“Hik … hik … hik!”Si nenek tertawa. “Kita sudah bersahabat. Aku tak ingin sahabatku kena celaka. Dua Sinuhun dan bocah berjulukan Dirga Purana itu banyak akalnya. Semua akal, serba jahat dan licik. Apa lagi mereka dibantu pula oleh Kesatria Roh Jemputan. Yang berdasarkan Wiro dijuluki sebagai Pangeran Segala Cerdik, Segala Akal, Segala Ilmu, Segala Licik, Segala Congkak…”

“Nek, saya tidak mengira kamu banyak mendapat kisah dari Wiro.”

“Sssttt …. Bukan hanya cerita. Ciuman juga banyak!”Jawab Ratu Randang kemudian tertawa cekikikan dan merangkul tubuh Kunti Ambiri lebih kencang. Saat itu juga gadis alam roh ini merasa ada hawa masbodoh masuk ke dalam tubuhnya melalui ubun-ubun dan kedua telapak kaki. “Kau tinggal menyebut nama mahluk hidup yang kamu inginkan. Setelah mahluk hidup itu terujud, tubuh kasarmu akan pindah ke tempat lain.”

“Terima kasih Nek. Biar kucium dulu dadamu yang besar montok!”Kata Kunti Ambiri pula, Lalu hidungnya disusupkan ke balik dada pakaian Ratu Randang hingga si nenek terpekik, menggeliat kegelian.

“Kalian semua! Lekas gotong cowok itu dan cepat masuk kembali ke sini!”

Tiba-tiba Empu Semirang Biru berseru. “Aku kawatir delapan ekor anak kucing merah masih berada di luar sana.”

Ratu Randang, Sakuntaladewi dan Jaka Pesolek segera mengangkat Wiro dan masuk kembali ke dalam Ruang Segi Tiga Nyawa.TUJUHDI DALAM Ruang Segi Tiga Nyawa, Wiro dibaringkan di lantai, dua langkah di depan Empu Semirang Biru yang berada dalam keadaan terikat rantai merah yang disebut Rantai Kepala Arwah Kaki Roh. Ratu Randang tegak di samping Jaka Pesolek dan Sakuntaladewi, memegang delapan Bunga Matahari kecil di tangan kanan.

“Ratu Randang, ketika kamu terkena racun Cakar Sukma Merah, Embah Buyut Kumara Gandamayana menolongmu. Jika kamu masih ingat cara orang renta mistik itu menyelamatkanmu, sebaiknya segera kamu cobakan pada cowok itu.”Berkata Sakuntaladewi.

Ratu Randang rapikan dada pakaiannya yang tersingkap akhir ciuman Kunti Ambiri tadi kemudian menjawab.

“Waktu itu Embah Buyut menotok ubun-ubunku kemudian meremas tanganku yang luka hingga darah mengandung racun mengucur keluar. Setelah darah berhenti mengucur beliau menotok dada kiriku.”

“Ditotok atau diusap Nek?”Bisik Jaka Pesolek. Gadis yang punya ilmu hebat menangkap petir ini pribadi menjerit ketik perutnya disambar cubitan Ratu Randang.

Sakuntaladewi menegur. “Sahabatku Jaka Pesolek, kini bukan saatnya bergurau!”

Jaka Pesolek senyum cengengesan dan membungkuk-bungkuk sambil berkata.

“Maafkan saya … maafkan aku.”Lalu verbal ditepuk-tepuk.

Empu Semirang Biru cepat menengahi.

“Ratu, kamu tahu semua apa yang dilakukan Embah Buyut. Apakah kamu bisa menolong cowok itu dengan cara yang sama?”

“Aku bisa saja melaksanakan mirip cara Embah Buyut. Tapi tingkat ilmuku tidak setinggi orang renta itu.

Selain itu berdasarkan Embah Buyut, orang yang kena racun Cakar Sukma Merah gres bisa diberi pertolongan kalau tubuhnya dibawa masuk delapan tombak ke dalam tanah. Nah, ini yang tidak bisa saya lakukan. Bagaimana mengukur dan menghitung masuk ke dalam tanah sejauh delapan tombak.”

Ruang Segi Tiga Nyawa menjadi sunyi lantaran semua orang jadi terdiam. Ratu Randang memperhatikan sosok Wiro dengan perasaan sedih sambil masih terus memegangi delapan Bunga Matahari kecil. Sakuntaladewi tampak sangat tegang hingga wajahnya pucat. Jaka Pesolek unjukkan air muka berubah ketika si nenek dilihatnya mengusap-usap delapan Bunga Matahari sambil melangkah mendekati Wiro dan berlutut di samping sosok sang pendekar. Delapan Bunga Matahari terus diusap, sesekali dicium.

“Nek, apa yang ada dalam benakmu?”Jaka Pesolek bertanya. Tengkuknya mendadak saja masbodoh tapi dada bergetar.

“Sttt, membisu saja. Aku tengah berpikir.”

“Kalau kamu berpikir mau mengobati cowok ini dengan cara mengusapkan delapan Bunga Matahari kecil … Apa kamu tidak kawatir kejadian yang kemudian akan terulang kembali? Kau lupa apa yang terjadi dengan kita? Bagaimana kalau Wiro bukannya sembuh tapi malah celaka lagi mirip yang kita alami. Dirasuk hawa tidak karuan rasa…”

“Memangnya saya mau mengusap apanya?”Tukas Ratu Randang sambil delikkan mata pada Jaka Pesolek. Lalu nenek anggun ini pejamkan mata dan menarik nafas panjang beberapa kali. Kemudian beliau berkata.

“Waktu itu saya memang bertindak konyol ceroboh. Sekarang tidak akan saya ulangi. Delapan bunga ini bunga sakti! Berasal dari sekuntum Bunga Matahari besar. Yang melalui tangan Nyi Loro Jonggrang dirobah menjadi delapan bunga kecil. Kita hanya berusaha. Lebih baik melaksanakan sesuatu dari pada membisu saja.

Mudah-mudahan Yang Maha Kuasa memberkati. Kalian berdua mengapa tidak segera berdoa supaya teman kita ini bisa selamat?”

“Nek…”Sakuntaladewi berkata.

Ratu Randang tidak menjawab. Sepasang mata dibuka kembali. Delapan Bunga Matahari kecil didekatkan ke ubun-ubun Wiro kemudian diletakkan di atas kening. Dalam hati beliau berdoa memohon pertolongan Yang Maha Kuasa.

Perlahan-lahan delapan bunga diusap ke wajah yang ada gesekan tiga luka.

Usapan diteruskan ke dada dimana terdapat dua gesekan luka.

Gerakan tangan Ratu Randang berhenti sesaat.

Sepasang mata menatap bekas luka memanjang mulai dari dada hingga ke perut. Yaitu bekas dua tangan Sinto Gendeng merobek perut dan mengambil Kapak Naga Geni 212. Setelah menarik nafas dalam nenek ini gerakkan tangan kanan yang memegang delapan Bunga Matahari kecil. Delapan bunga menyentuh bekas luka di perut. Ketika delapan bunga bergerak mendekati pusar, Jaka Pesolek tidak damai lagi. Cepat beliau ulurkan tangan, memegang lengan si nenek.

“Cukup hingga di situ Nek. Aku tidak mau terjadi hal yang macam-macam.

Kau mungkin sudah kapok berbuat konyol. Tapi kalau kebetulan ada setan lewat kemudian mengusilimu?! Kalau Yang Maha Kuasa menakdirkan teman kita ini sembuh maka beliau akan sembuh. Kalau tidak, jangan ditambah penderitaannya.”

“Jaka Pesolek benar Nek,”Kata Sakuntaladewi yang berdiri di samping kiri Ratu Randang. Gadis berkaki tunggal yang punya kaul akan mengambil Wiro jadi suaminya ulurkan tangan untuk mengambil delapan Bunga Matahari kecil dari tangan si nenek.

Pada dikala itulah mendadak Ruang Segi Tiga Nyawa bergoyang keras. Atap laksana mau runtuh. Lantai mirip hendak amblas dan tiga sisi dinding seolah akan roboh! Ratu Randang, Jaka Pesolek dan Sakuntaladewi berusaha mengimbangi diri supaya tidak jatuh terbanting. Namun tetap saja mereka terhuyung keras kemudian braakk! Ketiganya jatuh tergeletak di lantai ruangan. Empu Semirang Biru meniup berulang kali, menghimpun tenaga supaya tidak terguling. Goncangan yang begitu keras membuat orang renta ini hampir tersandar ke salah satu dinding ruangan, dada turun naik, nafas terengah. Anehnya sosok Wiro yang terbaring di lantai sedikitpun tidak bergerak atau beranjak.

Di sebelah atas. Keris Kanjeng Sepuh Pelangi yang menancap di atap bergetar keras membersitkan tujuh cahaya pelangi. Sedikit demi sedikit kepingan gagang yang menancap di atas bergerak ke bawah. Ada kekuatan asing mirip menarik senjata ini supaya lepas dari atap ruangan! Namun kekuatan yang menahan keris supaya tetap berada di tempatnya tak kalah hebat! Akibatnya tubuh keris bergetar keras dan atap ruangan ikut bergoyang!

Tiba-tiba di atas atap terdengar bunyi ngeongan kucing disusul bunyi cakaran berulang. kali. Wajah Empu Semirang Biru berubah.

“Ada mahluk coba menerobos masuk ke dalam Ruang Segi Tiga Nyawa.”Sang Empu membatin. Lalu beliau berdoa. “Hyang Jagat Bathara, lindungi ruangan yang telah Kau ciptakan untuk keselamatan ini. Lindungi keris Kanjeng Sepuh Pelangi.

Lindungi kami semua yang ada di sini.”

Tiba-tiba selarik sinar kuning memancar di atas atap kemudian lenyap, goyangan yang mengguncang ruangan berhenti. Suara ngeongan dan cakaran kucing menggelegar kemudian sirna. Suasana di Ruang Segi Tiga Nyawa berubah sunyi laksana di pekuburan.

Ratu Randang yang pertama kali berdiri. Nenek anggun ini menjerit keras ketika beliau memandang ke arah sosok Pendekar 212.

“Nek! Ada apa?! Tanya Sakuntaladewi yang segera pula berdiri disusul oleh Jaka Pesolek sementara Empu Semirang Biru yang masih tersandar di dinding memperhatikan dari sudut ruangan, berusaha supaya bisa duduk bersila kembali di lantai. Setelah meniup dua kali orang renta ini kesannya bisa menggerakkan tubuh dari dinding dan duduk bersila di lantai mirip sebelumnya.

Ratu Randang tidak berani terus memandang. Dia membalikkan tubuh seraya berkata. “Kasihan. Hyang Jagatnatha! Mohon ampunMu! Aku tidak bisa menolongnya.”Si nenek tutup wajah dengan tangan kiri sambil menahan isak.

Kepala disandarkan ke dinding.

Sakuntaladewi dan Jaka Pesolek berpaling ke arah sosok Wiro. Keduanya sama-sama keluarkan permintaan kaget. Saat itu Wiro terbujur tak bergerak. Dari ubun-ubun, liang telinga, dua lobang hidung, sudut mata serta verbal mengucur darah merah kehitaman. Wajahnya sepucat mayat. Walau takut namun Jaka Pesolek beranikan diri mendekati Wiro. Ketika beliau memegang tangan sang pendekar, gadis ini terpekik, Tangan itu terasa dingin! Jaka Pesolek bersurut mundur, berpaling dan memandang ke arah Ratu Randang.

“Sang Hyang Widhi! Sudah takdir bagiku akan mendapatkan azab cacat seumur hidup! Wahai Para Dewa di Kahyangan, mengapa tidak sekalian nyawaku diambil juga.”Sakuntaladewi meratap. Tubuhnya yang terasa lemas perlahan-lahan terkulai berlutut di lantai. Kepala tertunduk.

“Aku belum sempat berguru ilmu membuat petir padanya, kini beliau sudah tiada….”Jaka Pesolek sesunggukan dan tekap wajah dengan dua tangan sambil sandarkan tubuh ke tubuh Ratu Randang.

Di sudut ruangan Empu Semirang Biru berkata. “Hidup dan mati seorang insan hanya Yang Maha Kuasa yang menentukan. Apa yang sudah jadi takdir-Nya tidak seorangpun bisa menolak. Kita semua harus bersyukur.”

“Empu teganya kamu berkata begitu!”Ratu Randang berteriak tapi masih terus menyandarkan kening ke dinding ruangan. “Kau ajak kami mensyukuri kematian seorang sahabat. Seorang Kesatria yang dibutuhkan bisa menyelamatkan Bhumi Mataram!”

“Kalian dari tadi memalingkan wajah, memejamkan mata dan menundukkan kepala hingga tidak melihat apa yang terjadi. Angkat kepala kalian.

Memandanglah ke arah cowok itu. Yang Maha Kuasa telah memperlihatkan rakhmat luar biasa berupa kehidupan, bukan kematian!”

Walau Empu Semirang Biru bicara penuh semangat namun air mukanya terlihat tidak gembira.

“Orang renta ngacok!”Ucap Jaka Pesolek. “Darah keluar dari mana-mana, dada tidak bergerak. Tubuh sudah masbodoh kaku. Kau masih bisa bilang bukan kematian!”DELAPANTIBA-TIBA dalam ruangan ada bunyi orang batuk. Sakuntaladewi angkat kepala. Ratu Randang dan Jaka Pesolek sama berpaling. Ketiganya memandang ke tengah ruangan dimana dikala itu Pendekar 212 Wiro Sableng tampak tengah berusaha bangun dan duduk di lantai. Walau verbal menyemburkan darah ketika batuk namun darah yang sebelumnya keluar dari ubun-ubun, hidung, mata dan indera pendengaran telah berhenti mengucur. Guratan luka di wajah, dada dan di tubuh yaitu luka memanjang hingga ke perut lenyap tak berbekas.

“Wiro!”

Ketiga orang itu sama sama menjerit. Empu Semirang Biru mengusap dada, mata dipejam. Sulit diduga bagaimana perasaannya dikala itu.

Sakuntaladewi keluarkan sehelai sapu tangan jingga. Jaka Pesolek tahu apa yang hendak dilakukan gadis berkaki satu itu. Cepat beliau mengambil sapu tangan jingga seraya berkata. “Sahabat, biar saya yang membersihkan noda darah di kepala dan wajah kekasihmu itu!”

Untuk beberapa lama Sakuntaladewi tertegun tak bergerak serasa masih tak percaya sebelum kesannya beliau kembali berteriak menyebut nama Wiro, terisak isak kemudian memeluk sang pendekar.

Ratu Randang berdiri menatap tak berkesip ke arah Wiro kemudian perhatikan delapan Bunga Matahari kecil di tangan kanannya.

“Bunga Matahari …. Apakah delapan bunga sakti ini yang memperlihatkan kesembuhan pada Wiro?” Si nenek bertanya-tanya dalam hati kemudian berlutut di samping Jaka Pesolek yang sibuk membersihkan noda darah. “Wiro, apa yang telah terjadi dengan dirimu. Kau tadi …. kamu tadi tampaknya sudah tidak bernafas, tahu-tahu hidup lagi.”

“Sahabat bertiga, saya melihat mata kalian pada merah tanda habis menangis.

Apa betul saya tadi sudah mati? Aku jadi bingung. Kalau begitu dikala ini saya bahu-membahu sudah jadi hantu!” Wiro keluarkan ucapan yang membuat sernua orang terperangah walau beliau berkata dengan senyum-senyum dan sambil menggaruk kepala. Dia tambahkan candanya sambil memandang ke bawah. “Ah, saya belum jadi hantu. Buktinya saya berdiri, dua kaki masih menjejak lantai. Ha … ha…ha!”

“Anak muda Kesatria Panggilan.” Empu Semirang Biru menegur. “Sebaiknya kita saling memberi penjelasan. Kau memberi tahu apa yang terjadi dengan dirimu sebelumnya dan kami akan menceritakan apa yang terjadi dengan dirimu di Ruang Segi Tiga Nyawa ini. Setelah itu kita akan melaksanakan satu pekerjaan besar.”

“Pekerjaan apa, Kek?” Tanya Wiro sehabis terlebih dulu membungkuk, memberi hormat. Dia heran melihat keadaan si kakek yang dibelit rantai merah.

Empu Semirang Biru menatap ke atas atap ruangan.. “Mengambil dan menyelamatkan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi yang ada di atas sana.”

Wiro mendongak, memandang ke atas atap ruangan. Dari cahaya yang memancar mengelilingi tubuh keris yang berluk sembilan itu beliau sudah bisa mengetahui kalau senjata tersebut merupakan satu senjata sakti mandraguna.

Empu Semirang Biru kemudian menuturkan secara singkat, riwayat senjata yang dibuatnya atas perintah Raja Mataram itu. Termasuk petir yang menyambar dari keris jikalau ada orang mendekati untuk mengambilnya.

“Hanya gadis berjulukan Jaka Pesolek dan Sakuntaladewi yang sanggup mengambil senjata bertuah itu. Itu sebabnya Para Dewa telah mengatur hingga keduanya berada di tempat ini.”

“Kek, turut bicaramu ruang ini berjulukan Ruang Segi Tiga Nyawa. Para Dewa yang membuat untuk melindungi Keris Kanjeng Sepuh Pelangi. Kalau keris itu diambil kemudian siapa yang menyimpannya? Akan dibawa ke Kotaraja untuk diserahkan pada Raja Mataram? Bukankah terlalu berbahaya bila keris berada di luaran sana dimana dua Sinuhun dan anak buahnya berkeliaran? Bukankah ruangan ini lebih memberi proteksi pada senjata tersebut?”

“Kau benar anak muda. Tapi bagaimana kalau dua Sinuhun dengan santunan bocah sakti berjulukan Dirga Purana suatu ketika bisa menembus atap atau dinding ruangan, atau menjebol lantai. Masuk ke dalam ruangan dan mengambil keris.”

“Mahluk yang akan mengambil akan hancur musnah dihantam petir yang keluar dari keris. Bukan begitu berdasarkan kisah Empu?”

“Bukan cuma cerita, tapi kenyataan.” Kata Sakuntaladewi pula. Lalu gadis ini menceritakan apa yang terjadi ketika beliau mencoba mengambil keris sakti. Kepada Wiro diperlihatkannya pakaiannya yang hangus disambar kilatan petir yang keluar dari keris sakti. Lalu Sakuntaladewi juga menerangkan sewaktu Dewi Ular alias Kunti Ambiri pergunakan sepuluh ular jejadian untuk mengambil keris. Sepuluh hewan itu musnah!

“Aku juga menaruh kawatir,” kataEmpu Semirang Biru pula. “Mungkin saja dua Sinuhun atau mahluk utusannya sudah membekal ilmu penangkal mementahkan serangan petir. Keris sakti itu merupakan satu satunya senjata yang bisa mengembalikan Sakuntaladewi pada ujud aslinya, seorang gadis berkaki dua.

Tentunya sehabis kamu lebih dulu bersedia dijadikan suaminya. Lalu keris itu pula satu-satunya senjata dikala ini yang bisa memutus rantai besi merah yang melibat sekujur tubuhku.”

Wiro terdiam, menggaruk kepala. Ucapan sang Empu bahwa kemungkinan Sinuhun Merah telah punya ilmu penangkal dan keris sakti merupakan satu satunya senjata yang bisa melenyapkan cacat di kaki Sakuntaladewi bisa diterimanya. Tapi kalau keris hingga dikeluarkan dari ruang perlindungan, ini yang tidak masuk jalan pikirannya.

“Waktu kita semakin sempit. Anak muda, harap kamu mau memberi tahu apa yang terjadi dengan dirimu sebelumnya.” Kata Empu Semirang Biru pula.

Wiro kemudian menceritakan kejadian ketika beliau tengah mengejar Jaka Pesolek masuk ke dalam tanah mendadak dihadang delapan ekor anak kucing berbulu merah.

“Delapan Sukma Merah,” kata Empu Semirang Biru. “Kesatria Panggilan, saya sudah menduga kalau hewan peliharaan bocah berjulukan Dirga Purana itu yang menyerangmu.”

Ratu Randang kemudian menuturkan bagaimana sebelumnya ketika berada di Candi Kalasan beliau telah diserang dan hampir dibantai delapan ekor anak kucing itu.

Namun bisa selamat lantaran ditolong oleh seorang, kakek sakti dari alam mistik yang berdasarkan Empu Semirang Biru yaitu Embah Buyut Kumara Gandamayana.

“Apakah kakek itu juga yang telah menyelamatkan diriku?” Wiro bertanya.

“Tiga sahabatmu itu yang telah menolongmu,”jawab Empu Semirang Biru.

Wiro berpaling, menatap pada tiga orang yang berada di depannya kemudian berkata.

“Kalau begitu saya harus mengucapkan terima kasih pada kalian bertiga!” Wiro kemudian memeluk satu persatu Ratu Randang, Sakuntaladewi dan Jaka Pesolek.

Jaka Pesolek pergunakan kesempatan untuk balas merangkul Wiro berlamalama.

Tersipu-sipu beliau gres melepas pelukan sehabis Ratu Randang menarik tangannya. Sakuntaladewi mengambil kembali sapu tangannya yang tadi dipergunakan membersihkan darah di kepala, wajah serta dada Wiro kemudian disimpan di balik pakaian.

“Wiro, saya yakin kesaktian delapan BungaMatahari kecil ini yang telah menyembuhkan dirimu. Kau ingat kejadian ketika Nyi Loro Jonggrang memperlihatkan sekuntum Bunga Matahari besar padamu? Bunga yang delapan ini berasal dari yang besar itu. Kami mendapatkan amanat dari Nyi Roro Jonggrang.

Bunga ini harus diserahkan padamu.” RatuRandang dengan cepat susupkan delapan Bunga Matahari kecil ke pinggang Wiro. “Ada pesan dari Nyi Loro …”

“Nek, tunggu dulu,” Wiro memotong ucapan RatuRandang. “Ketika berada di luar ruangan saya melihat Kunti Ambiri ada di sini…”

“Gadis itu pergi mengejar gurumu yang telahmengambil senjata berbentuk kapak yang ada dalam tubuhmu.”

Wiro tersentak kaget. Dia gres sadar dan ingat. Ketika digotong menemui kakek bersorban dan berjubah kelabu, di dalam tubuh si kakek kurang jelas beliau melihat sosok Eyang Sinto Gendeng. Setelah itu ada delapan cahaya merah menyilaukan menyambar ke arahnya dan beliau tidak ingat apa-apa lagi.

Wiro usapkan dua tangan ke dada, kemudian berucap gemetar. Dia tidak merasa ada hawa hangat masuk ke dalam telapak tangannya!

“Kosong …. hampa! Ya Tuhan! Kapak Naga Geni Dua Satu Dua tak ada lagi dalam tubuhku!” Wiro tersandar ke dinding ruangan. Mata menatap ke arah tiga orang di depannya dengan pandangan kosong. Mulut berucap perlahan. “Aku tak percaya! Eyang mengambil kapak sakti milikku. Bagaimana. caranya? Selain diriku hanya Kiai Gede Tapak Pamungkas yang bisa memasukkan dan mengeluarkan senjata sakti itu dari tubuhku! Tidak mungkin Eyang Sinto bisa melakukan! Karena semua yaitu pekerjaan gaib.”

“Wiro, kamu tahu gurumu telah dicuci otaknya oleh Sinuhun Merah Penghisap Arwah.” Berkata Ratu Randang.

Wiro terdiam. Dia memang sudah tahu hal itu.

“Kami bertiga menyaksikan sendiri apa yang terjadi! Juga Empu Semirang Biru!”Kata Sakuntaladewi pula. “Gurumu membelah tubuhmu di kepingan dada hingga ke perut. Semua terjadi sangat cepat. Luar biasa mengerikan!”

Wiro merinding. Lalu perhatikan dan usap-usap dada serta perutnya.

“Eyang Sinto membelek tubuhku? Aneh, mengapa tidak ada bekasnya!”

Itu berkat delapan Bunga Matahari yang diusapkan nenek ini ke dada dan perutmu.” Yang menjawab Jaka Pesolek. “Sebetulnya saya mau juga mengusapkan, tapi nenek ini tak memberi kesempatan. Mungkin mengharap ciuman tambahan…”

“Husss! Ratu Randang membentak sambil pelototkan mata.

Jaka Pesolek cepat-cepat menjauh. Takut dipelintir lagi perutnya dengan cubitan.

“Aku akan ceritakan apa yang terjadi dan saya lihat,” Empu Semirang Biru berkata kemudian memberitahu Wiro apa yang terjadi. Dia juga menyatakan rasa herannya bahwa guru yang dipanggil dengan sebutan Eyang itu ternyata seorang gadis cantik.

“Empu, saya tidak tahu bagaimana kejadiannya orang-orang di Bhumi Mataram melihat guruku mirip seorang gadis cantik. Sementara saya tetap melihatnya mirip apa adanya, yaitu ujud seorang nenek. Seperti kata Ratu Randang, saya yakin Eyang Sinto berbuat jahat bukan maunya. Dia telah dikuasai oleh Sinuhun Merah Penghisap Arwah. Otaknya telah dicuci dengan ilmu hitam berjulukan Delapan Jalur Arwah Pencuci Otak Celaka, niscaya semua yang terjadi sudah diatur dan dibawah kendali Sinuhun Merah. Kapak Naga Geni Dua Satu Dua niscaya akan diserahkan Eyang Sinto pada mahluk jahanam itu. Kek, teman semua, saya harus mengejar Eyang Sinto. Mencegah supaya kapak sakti tidak jatuh ke tangan Sinuhun Merah. Walau Kunti Ambiri sudah melaksanakan pengejaran tapi tanggung jawab senjata sakti itu ada di tanganku!”

“Aku akan menemanimu!” Kata Jaka Pesolek.

“Aku juga!” Kata Ratu Randang dan Sakuntaladewi berbarengan.

“Kesatria Panggilan, kamu memang wajib membela dan menyelamatkan gurumu. Kalau beliau hingga menemui kematian di tangan Sinuhun Merah dan kamu tidak berbuat apa-apa, kamu akan menyesal seumur hidup. Kau akan dicap sebagai murid yang tidak berbakti kepada guru. Selain itu kamu juga harus mendapatkan kapak sakti milikmu itu kembali. Aku tidak akan kecewa kalau kamu pergi. Tapi kuharap paling tidak Jaka Pesolek dan Sakuntaladewi tetap di sini. Keris Kanjeng Sepuh Pelangi harus segara diambil dari atas atap sana!”

“Kek, keris itu cukup kondusif selama berada dalam ruangan ini,” kata Jaka Pesolek menggandakan ucapan Wiro lantaran beliau sudah tidak betah lagi berada di tempat itu.

Wajah Empu Semirang Biru berubah. Dia berpaling dan menatap Sakuntaladewi.

“Aku mohon kamu dan Jaka Pesolekmementingkan senjata itu. Kalau keris sudah didapat dan kalian menyerahkannya padaku, kalian mau pergi kemana saya tidak akan perduli. Aku berkewajiban menyerahkan keris itu pada Raja Mataram lantaran senjata itu lenyap dari tanganku di tempat kediamanku di Gunung Bismo.

Tapi sebelum kalian pergi biar saya ingin berbakti dulu yaitu supaya sanggup melenyapkan kutuk hitam yang selama ini telah menyengsarakan dirimu…”

Mendengar ucapan Empu Semirang Biru yang terdengar lirih itu Sakuntaladewi menjadi bimbang. Dia memandang ke arah Jaka Pesolek. Ketika beliau hendak menoleh ke arah Wiro, astaga! Sang pahlawan sudah tidak ada lagi di tempat itu!

“Kek! Kalaupun keris itu kita dapatkan, tapi bagaimana kamu bisa mengembalikan ujudku lantaran Wiro tak ada lagi di sini?! Bukankah beliau harus mengucapkan kata, kesepakatan atau sumpah bahwa beliau akan bersedia menjadi suamiku?”

“Sakuntaladewi, hal itu tidak perlu terlalu kamu kawatirkan. Jika Para Dewa telah memilih beliau bakal menjadi suamimu, maka beliau akan menjadi suamimu.

Jika Yang Maha Kuasa memilih kamu akan sembuh tanpa kehadiran cowok itu maka kamu akan sembuh.”

Dewi Kaki Tunggal,” kata Jaka pesolek dengan menyebut nama julukan si gadis. “Kita harus mengejar Wiro secepatnya. Lebih baik kita segera berdasarkan saja apa yang diminta Empu biar kita bisa pergi lebih cepat dari sini.”

“Jaka Pesolek, ternyata kamu mempunyai hati dan jalan pikiran yang lebih jernih.

Aku berterima kasih padamu. Sahabatmu Sakuntaladewi niscaya mau menolong.

Bukan menolong diriku saja. Tapi yang jauh lebih penting yaitu kalian akan menolong Raja Mataram dan menyelamatkan Kerajaan dari mahluk-mahluk jahat pimpinan Sinuhun Merah Penghisap Arwah.”

Merasa hiba pada sang Empu dan merasa Jaka Pesolek berucap benar maka Sakuntaladewi kesannya anggukkan kepala.

“Kek, kami berdua akan berhubungan mengambil keris sakti itu.”

“Hyang Jagat Bathara! Aku sangat berterimakasih. Para Dewa akan memberkati kesembuhanmu wahai Sakuntaladewi.” Kata Empu Semirang Biru dengan wajah berseri. Lalu lagi-lagi beliau kembali mendengar bunyi mengiang di indera pendengaran kiri. Tubuhnya yang duduk bersila bergerak ke atas seujung kuku kemudian turun lagi ke lantai. Tidak seorangpun di dalam ruangan melihat kejadian ini.SEMBILANKELUAR dari Ruang Segi Tiga Nyawa Pendekar 212 Wiro Sableng dapatkan diri berada di tempat Candi Plaosan Lor. Saat itu mentari mulai condong ke barat namun cahayanya masih terasa sangat terik, memerihan kulit, mendenyut benak.

Tidak tahu mau mencari dan mengejar Eyang Sinto Gendeng kemana, sehabis memandang berkeliling memperhatikan beberapa candi yang ada di tempat itu, Wiro kesannya mendatangi salah satu candi, duduk di kepingan tangga yang terlindung dari sorotan sinar matahari. Sesekali angin bertiup kencang menerbangkan debu ke udara. Wiro perhatikan keadaan pakaiannya yang kotor dan robek. Sang pahlawan goleng-goleng kepala kemudian menggerutu sendiri.

“Gembel saja mungkin lebih baik keadaannya dari diriku dikala ini!” Kemudian Wiro ingat pada senjatanya yang hilang. “Kalau saya tidak bisa mendapatkan Kapak Naga Geni kembali, tidak sanggup menyelamatkan Eyang Sinto serta tidak bisa mencari tahu dimana beradanya Ni Gatri, rasanya celaka habis diriku ini!”

Wiro lunjurkan tubuh di atas tangga, mata dipejam, kepala digaruk. Dia coba mengingat kejadian yang gres saja dialami. “Ruang Segi Tiga Nyawa. Nama aneh. Kenapa disebut begitu? Empu Semirang Biru. Kakek yang katanya pembuat Keris Kanjeng Sepuh pelangi itu, beliau juga aneh. Dari mana beliau tahu kalau saya dijuluki Kesatria Panggilan? Padahal tidak ada yang memberi tahu! Wajar-wajar saja kalau beliau sangat mementingkan keris sakti yang menancap di atap ruangan.

Padahal selama tetap berada di dalam ruangan proteksi Dewa senjata itu akan aman-aman saja. Tapi kelihatannya, saya merasa beliau tidak suka saya berlama-lama, berada dalam ruangan itu. Dengan alasan saya harus mendapatkan kapak serta menyelamatkan Eyang Sinto beliau lebih suka saya pergi. Kenapa?”

Wiro menggaruk kepala kembali kemudian membatin. “Ah, sudahlah. Mengapa semua itu harus saya pikirkan. Tapi tidak dipikir memang jadi pikiran. Eh, kalau urusan keris sudah selesai, bagaimana Ratu Randang, Jaka Pesolek dan Sakuntaladewi keluar dan dalam ruangan di dalam tanah itu? Apakah Empu Semirang Biru punya ilmu kesaktian untuk mengeluarkan mereka? Seharusnya saya mengajak Ratu Randang bersamaku. Mungkin beliau bisa menolong mencari dimana beradanya Eyang Sinto atau membuntuti Kunti Ambiri. Nenek genit itu punya ilmu menjajagi orang. Selain itu beliau niscaya tahu dimana sarangnya Sinuhun Merah. Aku jadi kawatir. Tapi urusan sendiri laksana gunung watu membebani diriku…”

Wiro usap-usap bibirnya kemudian tersenyum sendiri. “Nenek tukang cium. Berapa ciuman lagi yang masih bersisa? Aku tidak menghitung!”

Wiro kemudian ingat pada kuda lumping yang menjadi tumpangannya sewaktu masuk ke Bhumi Mataram alam delapan ratus tahun sebelumnya. Dimana beradanya kuda lumping itu tidak diketahui.

“Tanpa kuda lumping itu saya tidak mungkin kembali ke alam delapan ratus tahun mendatang. Juga Eyang Sinto dan Ni Gatri. Apa yang harus saya lakukan?

Siapa yang bisa menolong? Jangan-jangan sudah ditakdirkan saya tidak bisa kembali. Celaka besar! Edan semua!” Wiro bantingkan kaki kanannya ke tanah kemudian berdiri.

Tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi jeritan panjang. Ketika Wiro memandang ke atas di udara beliau melihat sebuah benda kehijauan melayang jatuh dari balik atap bangunan candi paling besar. Benda inilah yang mengeluarkan jeritan. Lalu ada cairan merah bertebaran diudara. Darah!

“Burung? Kenapa besar sekali? Kalau burung mana bisa menjerit mirip manusia? Kelihatannya sosok itu terluka.” Wiro berpikir. Sewaktu benda yang melayang jatuh itu hanya tinggal sekitar delapan tombak akan mencapai tanah kaget Pendekar 212 bukan alang kepalang ketika beliau mengenali!

“Kunti Ambiri!”Teriak Wiro.

Ternyata yang melayang jatuh yaitu sosok Kunti Ambiri alias Dewi Ular.

Dalam kejut dan bingungnya Wiro masih bisa berpikir. Kalau beliau pribadi berusaha menangkap tubuh gadis alam roh itu mungkin beliau akan kesulitan menahan daya berat jatuhnya tubuh. Bisa-bisa tangkapannya lepas jebol dan Kunti Ambiri tetap saja terbanting jatuh ke tanah.

Tidak menunggu lebih lama Wiro melompat satu tombak ke depan dan berdiri tepat dibawah sosok yang akan jatuh. Dua lutut ditekuk, dua tangan diangkat kemudian perlahan-lahan didorong ke atas sambil merapal aji kesaktian Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih.

Dua gelombang angin menderu ke udara, menghadang sosok Kunti Ambiri, membuat gerakan jatuh yang kencang tertahan seketika kemudian diredam demikian rupa. Walau tubuh kemudian masih terus melayang ke bawah namun gerakannya berubah perlahan. Sebelum menyentuh tanah Wiro dengan cepat menangkap dan merangkul tubuh si gadis kemudian dibaringkan di tempat keteduhan di bawah sebatang pohon.

Ketika Wiro memperhatikan keadaan sosok Kunti Ambiri, dadanya berdebar, tengkuk merinding. Tubuh itu sama sekali tidak bergerak. Mata setengah nyalang, wajah pucat pasi dan di leher ada satu luka panjang menguak. Dari luka ini mengucur darah merah kehitaman, membasahi dada dan pakaian.

“Kunti!”Wiro berteriak. Dengan kedua tangannya beliau menekan dada si gadis dan alirkan tenaga dalam serta hawa sakti. Dari verbal Kunti Ambiri keluar bunyi erangan pendek. Wiro lipat gandakan kekuatan tenaga dalam dan hawa sakti. Lalu membuat beberapa totokan di tubuh sebelah atas serta leher si gadis. Namun darah masih terus mengucur dari luka di leher dan Kunti Ambiri masih tidak sadarkan diri. “Cakar Sukma Merah. Pasti beliau terkena serangan mengandung racun ganas itu!” Pikir Wiro. “Siapa yang melakukan? Delapan anak kucing merah yang pernah menyerang dan mencelakai diriku?” Wiro ulurkan tangan kanan, telapak diletakkan di atas kening Kunti Ambiri kemudian kembali beliau mengerahkan tenaga dalam dan hawa sakti. Tetap saja gadis itu tidak bergerak.

Wiro menghela nafas dalam, tidak tahu mau berbuat apa untuk menolong Kunti Ambiri. Saat itulah beliau mencium basi tidak enak. Walau pakaian tipis hijau dan tubuh Kunti Ambiri menebar basi wangi, namun basi wangi itu kalah oleh basi lain yang barusan terhendus.

“Bau pesing!” ucap Wiro perlahan. Dia kenal betul basi itu. Wiro memandang berkeliling. “Eyang Sinto, apa kamu ada di sini!”Tak ada jawaban. Wiro memperhatikan ke arah candi besar dan beberapa candi lainnya di tempat itu, juga memperhatikan ke atas pohon. Tidak kelihatan siapapun, Wiro arahkan perhatiannya kembali pada Kunti Ambiri. Pandangannya membentur sebuah benda yang tergenggam dalam kepalan tangan kanan si gadis. Benda itu yaitu robekan secarik kain hitam berair yang cukup lebar, sebagian terkepal dalam genggaman Kunti Ambiri.

“Robekan kain…Apakah mungkin…?”Wiro dekatkan hidungnya ke tangan kanan si gadis. Begitu menghendus, kepala serta merta ditarik menjauh.

Tampang sang pahlawan jadi mengkeret. “Betul basi pesing Eyang Sinto!

Robekan kain berair itu niscaya robekan pakaiannya … Bagaimana bisa berada dalam genggaman Kunti Ambiri!”Wiro berpikir. Dia ingat keterangan Ratu Randang sewaktu berada di Ruang Segi Tiga Nyawa. Si nenek menceritakan kalau Kunti Ambiri pergi mengejar Eyang Sinto Gendeng yang telah merobek tubuhnya dan mengambil Kapak Naga Geni 212. Lalu beliau ingat pula akan perubahan yang dilihatnya pada diri sang guru. Mulut bertaring, kuku jari tangan mencuat mirip pisau, bunyi berubah mirip kucing mengeong!

“Bukan tidak mungkin Eyang Sinto yang telah mencelakai gadis ini!”Pikir Wiro.

“Apa yang harus saya lakukan? Kalau tidak segera ditolong Kunti Ambiri niscaya menemui ajal!” Wiro berlutut di samping tubuh si gadis. Tangan kanan berulang kali mengusap kening Kunti Ambiri. Di masa kemudian si gadis yaitu salah satu musuhnya yang paling jahat. Tapi dikala itu beliau merasa sangat terpukul kalau Kunti Ambiri benar-benar menemui kematian. Apa lagi kalau si pembunuh bahu-membahu memang yaitu Eyang Sinto Gendeng walau si nenek berbuat diluar kesadaran.

Wiro dekatkan mukanya ke wajah sebelah kiri Kunti Ambiri. Setelah mencium pipinya, beliau berbisik ke indera pendengaran si gadis.

“Kunti, saya tahu kamu dalam keadaan pingsan. Tapi saya juga tahu Gusti Allah akan memberi kemampuan padamu untuk mendengar. Kunti, kamu dulu yaitu musuhku paling jahat. Aku bahkan pernah membunuhmu! Tapi kini kamu yaitu teman paling dekat dan saya sayangi. Dengar Kunti, berdoalah walaupun hanya dalam hatimu. Berdoalah pada Yang Maha Kuasa mohon keselamatan.

Gusti Allah niscaya akan mendengar doa orang teraniaya sepertimu!”

Wiro kemudian mencium kening Kunti Ambiri. Tiba-tiba beliau merasa ada getarangetaran hebat di dalam tanah di pedataran Candi Plaosan.

Lapat-lapat beliau juga mendengar bunyi mirip teriakan orang disertai bentakan bentakan. Wiro terkesiap.

“Sesuatu terjadi di bawah tanah sana. Mungkin dalam Ruang Segi Tiga Nyawa.

Aku kawatir kalau-kalau …”

Mendadak di kejauhan terdengar bunyi tambur dan tiupan seruling. Udara berkembang menjadi agak teduh.

“Dua insan aneh. Si pemukul tambur dan peniup seruling. Kalau beliau muncul biasanya …’

Dua bayangan terlihat di atas bangunan Candi Plaosan paling besar.

“Benar mereka! Sepasang Arwah Bisu. Kakeknenek Sakuntaladewi…” Wiro menatap tak berkesip.SEPULUHDI ATAS menara paling tinggi Candi Plaosan terlihat sepasang kakek nenek berselempang kain putih mengambang di udara. Sementara di kejauhan bunyi tambur dan suling terdengar semakin keras.

Maklum kalau dua kakek nenek alam mistik itu muncul untuk satu maksud tertentu Wiro segera menjura membungkuk memberi penghormatan.

Kakek di atas bangunan candi segera menggerakan dua tangan dan jari-jari, membuat bahasa bicara orang bisu sementara si nenek menampung dua tangan seolah tengah berdoa. Wiro yang telah mendapat ilmu bicara ini dari Nyi Loro Jonggrang cukup mengerti apa yang disampaikan si kakek.

“Ketika galau memang insan bisa menjadilinglung. Ketika dilanda ketegangan insan bisa lupa pada Kekuatan dan Kuasa Para Dewa. Anak muda, kamu membekal delapan Bunga Matahari sakti. Dengan bunga itu orang pernah menyembuhkan luka akhir Cakar Sukma Merah dan menyelamatkan jiwamu.

Mengapa kini bunga sakti tidak dipergunakan untuk menyelamatkan teman yang teraniaya dan yang bahu-membahu hari demi hari berlalu sangat mengasihi dirimu? Kekuatan cinta yang ada di dalam dirinya merupakan sebagian kekuatan yang diberikan Yang Maha Kuasa hingga tekadnya untuk sembuh dan hidup lebih berpengaruh dari tiupan angin puting-beliung di pedataran Bromo! Tolong beliau dengan delapan Bunga Matahari itu. Usapkan delapan bunga Matahari ke luka di lehernya. Sekarang juga!”

Pendekar 212 Wiro Sableng melengak kaget.

Bukan saja lantaran ucapan bahasa bisu si kakek menyadarkan dan mengingatkannya wacana delapan Bunga Matahari yang ada padanya yaitu diberikan oleh Ratu Randang ketika masih berada di Ruang Segi Tiga Nyawa, tapi lebih hebat dari itu yaitu ucapan yang menyampaikan bahwa Kunti Ambiri mengasihi dirinya dan kekuatan cinta si gadis merupakan tekad kekuatan luar biasa hebat untuk sembuh dan bertahan hidup.

Wiro menatap sebentar ke arah Kunti Ambiri. Ketika beliau memandang lagi ke kepingan atas Candi Plaosan sosok dua kakek nenek telah memudar samar. Wiro cepat gerakkan dua tangan dan jari jemari memberikan ucapan terima kasih atas petunjuk si kakek. Di kejauhan kembali terdengar bunyi tambur dan suling, bayangan Sepasang Arwah Bisu lenyap dari pemandangan.

Dari balik pakaiannya yang robek dengan cepat Wiro mengeluarkan delapan kuntum Bunga Matahari kecil. Bunga dipegang erat, ditempelkan ke leher yang luka kemudian perlahan lahan disapukan pulang balik dua kali berturut turut. Pada sapuan ke tiga Wiro melihat delapan Bunga Matahari bergetar, memancarkan cahaya coklat, kuning dan hijau. Di langit terdengar bunyi kucing mengeong riuh.

Desss!

Asap tiga warna mengepul dari leher Kunti Ambiri. Begitu pupus Wiro melihat luka di leher si gadis telah lenyap tanpa bekas sedikitpun. Kunti Ambiri mengerang pendek. Tubuh menggeliat, dalam keadaan miring dan mencoba bangun gadis ini muntahkan darah merah kehitaman.

Wiro cepat memeluk si gadis. Meletakkan delapan bunga di atas kepalanya dan berbisik “Kunti kamu niscaya sembuh! Kau niscaya sembuh! Dua kakek nenek bisu terima kasih kamu telah memberi petunjuk. Gusti Allah terima kasih Kau telah menolong teman saya.” Wiro merasa ada dua tangan merangkulpunggungnya.

Ada bunyi mengisak disusul ucapan. “Wiro, kaukah ini?”

Wiro anggukkan kepala.

“Akusangat berterima kasih kamu menolongku…”

“Sshhh, berterima kasih pada Gusti Allah. YangMaha Kuasa …”

Kunti Ambiri gelengkan kepala kemudian sesenggukan dan memeluk Wiro lebih kencang. “Aku … aku…..”

“Aku kenapa Kunti!”Tanya Wiro lantaran si gadis tidak meneruskan ucapan.

“Aku, apakah untuk bisa mirip sekarangini, untuk bisa memelukmu dengan segala ketulusan hatiku saya harus menderita dulu bahkan nyaris mati.” Wiro terdiam. Hatinya terenyuh. Dia pergunakan ujung bajunya untuk menyeka noda darah yang masih menempel di verbal dan dagu si gadis.

“Wiro, saya tidak akan melepaskan pelukan ini hingga kapanpun!”

Wiro tertawa. Dia usap-usapkan delapan Bunga Matahari ke pipi si gadis.

“Ratu Randang yang memperlihatkan bunga ini padamu?”

Wiro mengangguk. “Bunga sakti ini yang menyembuhkan luka beracun di lehermu.” Wiro memberi tahu.

“Apa Ratu Randang juga memberikan pesan Nyi Loro Jonggrang?”Tanya Kunti Ambiri sambil membelai tengkuk Wiro.

“Dia tampaknya hendak menyampaikan sesuatu tapi belum sempat diucapkan ……”

“Aku tahu semua pesan Nyi Loro Jonggrang. Aku akan memberi tahu padamu.”

“Nanti saja. Sekarang kamu butuh istirahat dulu. Tubuhmu kurasa masih panas akhir racun…”

“Racun di tubuhku sudah tiada.Kau yakin dikala ini tubuhku panas lantaran racun itu?” Tanya Kunti Ambiri sambil menatap Wiro kemudian mengedipkan sepasang matanya.

Wiro tertawa namun tawanya lenyap ketika Kunti Ambiri menempelkan pipinya ke pipi sang pahlawan kemudian menciumnya.

Debaran di dada Wiro semakin keras.

“Kunti, saya akan membawamu ke dalam Candi. Di sana lebih teduh dan sejuk…”

“Tidak usah, saya lebih suka di sini.” Jawab sigadis. Lalu rebahkan tubuhnya di pangkuan Wiro. Mata dipejam, verbal berucap. “Aku benar-benar tidak pernah mengimpikan saat-saat mirip ini…”

Wiro jadi galau sendiri. Dalam hati beliau membatin. “Apa yang dikatakan kakek bisu itu agaknya memang kenyataan. Kalau saya mengikuti alunan perasaan gadis ini dikala ini ……”

“Kunti, saya ingin tahu apa yang telah terjadi.Menurut tiga teman di Ruang Segi Tiga Nyawa kamu pergi mengejar guruku Eyang Sinto Gendeng yang telah mencuri Kapak Naga Geni Dua Satu Dua dengan cara membelah dadaku.”

“Akan saya ceritakan,” jawab Kunti Ambiri lalusandarkan punggung ke batang pohon. Setelah mengusap lehernya gadis anggun alam roh ini menuturkan ……..* * *SINAR sang surya bukan saja sangat terik memerihkan jangat tapi juga membuat silau pandangan Kunti Ambiri. Tadi sekejapan beliau sempat melihat sosok Eyang Sinto Gendeng berkelebat ke arah barat. Agar pemandangan bisa lebih luas Kunti Ambiri melesat ke atas salah satu candi. Benar saja, begitu menjejakkan kaki di atas menara candi beliau bisa melihat si nenek yang dikala itu ternyata berada di atas atap candi Plaosan Lor paling besar. Berdiri berkacak pinggang, verbal perot mengunyah susur dan sepasang mata menatap bernafsu ke arah si gadis.

“Nenek itu tidak meneruskan lari. Dia mirip sengaja menungguku!” Pikir Kunti Ambiri. Tidak menunggu lebih lama si gadis segera melesat ke atas puncak candi dimana Sinto Gendeng berada. Si neriek menyambut dengan seringai menakutkan memperlihatkan taring di sudut bibir. Delapan dari sepuluh kuku jari tangannya mencuat laksana pisau berwarna merah. Kapak Naga Geni 212 tampak terselip di balik pakaiannya.

Walau tahu kalau Sinto Gendeng sudah dicuci otaknya oleh Sinuhun Merah Penghisap Arwah, namun Kunti Ambiri tetap menaruh hormat dan menyapa.

“Nek, salam hormat untukmu.”

“Gadis dajal alam roh! Kau sudah lama mampus! Apa mau mampus lagi dan rohmu saya cabik-cabik berani mengejar diriku?!” Sinto Gendeng membentak.

Delapan benjolan merah di kepalanya memancar terang.

“Nek, maafkan saya …”

“Benar-benar dajal jahanam! Kau panggil saya nenek? Apa matamu bota?!”

Kunti Ambiri termenung heran. Kemudian beliau segera ingat. Orang-orang orisinil Bhumi Mataram melihat ujud Sinto Gendeng mirip seorang gadis anggun bertubuh molek dan wangi. Sebaliknya beliau bersama Wiro, Ni Gatri dan Pangeran Matahari yang berasal dari alam delapan ratus tahun mendatang melihat Sinto Gendeng sebagai ujud aslinya yaitu nenek menakutkan berkulit hitam.

“Orang di depan mata, apapun ujudmu adanya, saya berdoa supaya Gusti Allah memberi kesadaran, padamu. Aku mohon kamu mengembalikan Kapak Naga Geni Dua Satu Dua yang sudah kamu ambil dari dalam tubuh Wiro.”

Sepasang mata Sinto Gendeng mirip mau melompat keluar dari rongganya yang cekung. Nenek ini tertawa gelak-gelak. Lalu beliau membentak.

“Apa kamu merasa kapak sakti ini milikmu hingga berani meminta?!”

“Tidak, kapak itu bukan milikku. Aku akan mengembalikan pada muridmu.

Dia sangat membutuhkan senjata itu. Banyak urusan besar yang harus di hadapinya di Bhumi Mataram ini.” Jawab Kunti Ambiri.

Sinto Gendeng kembali tertawa mengakak.

“Kau mau berbuat baik pada anak setan itu apa kamu mengharapkan beliau bakal jatuh hati padamu? Hik … hik … hik. Lekas pergi dari hadapanku dan jangan berani mengejar lagi!”

“Aku mohon, kembalikan dulu KapakNaga Geni. Aku minta tolong, saya mohon…”

Sinto Gendeng memaki panjang pendek kemudian berkata.

“Melangkah ke hadapanku! Berlutut dulu dan cium ke dua kakiku. Minta ampun atas segala dosamu selama ini! Baru senjata yang kamu minta saya berikan padamu!”

Kunti Ambiri terkesima. Kalau saja beliau tidak telah mendapatkan berkah Yang Maha Kuasa melalui Nyi Loro Jonggrang yang telah merubah sifat serta budi pekertinya, gadis alam roh ini dikala itu juga mungkin sudah menyerbu menghajar si nenek.

Kunti Ambiri malah tersenyum mendengar ucapan si nenek. Dalam hati beliau berkata. “Apa susahnya berlutut. Apa hinanya mencium kaki seorang yang jauh lebih renta dariku. Anggap saja beliau ibuku. Tapi hemm, apa benar semudah itu beliau hendak memperlihatkan senjata tersebut padaku? Aku menduga beliau hendak menjebakku. Apakah saya sebodoh itu? Hik … hik!”

Dengan langkah damai Kunti Ambiri mendekati Sinto Gendeng kemudian berlutut di hadapan si nenek sambil menahan nafas lantaran tidak tahan mencium basi pesing tubuh dan pakaian si nenek. Ketika beliau membuat gerakan hendak mencium kaki Sinto Gendeng tiba tiba beliau mendengar bunyi berdesir.

“Serrr!”

Kunti Ambiri angkat kepala, memandang ke atas. Ternyata yang berdesir yaitu bunyi air kencing yang tengah dimuncratkan si nenek. Meski merasa si nenek sudah sangat keterlaluan namun Kunti Ambiri masih mengambil perilaku mengalah. Cepat-cepat beliau melompat menjauh tapi Sinto Gendeng mengejar sambil kirirnkan tendangan berantai.

“Wuuttt!”

“Braaakk!”

Tendangan Sinto Gendeng menghajar dinding atas candi hingga jebol lantaran Kunti Ambiri berhasil mengelakkan. Didahului teriakan yang mirip bunyi kucing mengeong si nenek kembali menyerbu. Kali ini dengan mempergunakan serangan dua tangan yang mempunyai delapan kuku jari ibarat pisau. Di dalam rimba persilatan di tanah Jawa, tingkat kepandaian Kunti Ambiri bagaimanapun juga berada di bawah si nenek. Namun untuk mengalahkan Kunti Ambiri bukan hal mudah. Dalam tiga gebrakan pertama pertarungan tampak imbang. Jurus-jurus selanjutnya Kunti Ambiri agak terdesak lantaran gadis ini lebih banyak memusatkan perhatiannya untuk sanggup merampas Kapak Naga Geni 212 yang terselip di pinggang Sinto Gendeng.

Sinto Gendeng menyerang Kunti Ambiri mirip kesetanan. Tubuhnya lenyap di balik cahaya delapan kuku merah berbentuk pisau. Gerakannya cepat sekali, walau mengakibatkan angin tapi tidak bersuara membuktikan nenek ini mempunyai ilmu meringankan tubuh nyaris mencapai tingkat sempurna.

Dalam satu gebrakan di jurus ke sembilan Kunti Ambiri hampir berhasil menyentuh kapak namun tangan kanan Sinto Gendeng membabat luar biasa cepat.

Si gadis melompat mundur tapi kalah cepat.

“Craasss!”

Salah satu kuku jari berbentuk pisau membabat leher Kunti Ambiri. Luka menguak, darah menyembur.

“Brett!”

Kunti Ambiri hanya bisa menarik robek kain panjang lurik hitam yang dikenakan Sinto Gendeng. Setelah itu tubuhnya terjatuh dari atas atap candi sewaktu berusaha menyelamatkan diri dari serangan Cakar Sukma Merah berikutnya.* * *KUNTI AMBIRI menyudahi ceritanya dengan ucapan. “Ketika jatuh saya coba mengimbangi diri. Tapi tak berhasil. Setelah melayang jatuh saya masih berusaha jungkir balik supaya bisa melayang ke bawah, dengan dua kaki menginjak tanah lebih dulu. Tapi luka di leherku sangat parah. Selain itu racun Cakar Sukma Merah bekerja sangat cepat. Tubuhku diselimuti hawa panas. Kepala mirip mau pecah dan pemandangan berubah guram. Yang bisa saya lakukan hanya menjerit.”

“Kalau kamu tidak menjerit saya tidak akan melihat sosokmu yang jatuh dari atas candi,” kata Wiro pula.

Kunti Ambiri usap pipinya kemudian berkata. “Aku menyesal tidak bisa mendapatkan kapak saktimu.”

“Kita niscaya akan menemukan Kapak Naga Geni kembali.”

“Kita?” Ucap Kunti Ambiri dalam hati. “Maksudnya beliau dan saya bersama sama mencari senjata itu?”

Wiro berdiri menghampiri robekan pakaian Sinto Gendeng yang semenjak tadi tercampak di tanah.

“Robekan kain ini bisa dipergunakan untukmenjajagi dimana beradanya Eyang Sinto. Seseorang dengan ilmu kepandaiannya akan menolong kita.”

“Maksudmu Ratu Randang!”Tanya Kunti Ambiri.

Wiro mengangguk.

Tiba-tiba tanah di tempat itu bergetar. Pohon besar dimana mereka berada bergoyang-goyang. Dedaunan gugur berjatuhan.

“Sesuatu terjadi di bawah sana. Di dalam tanah…”

Ini kali kedua tanah bergetar.” Wiro memberi tahu. “Aku kawatir terjadi apa apa dengan tiga orang teman kita yang masih berada di dalam Ruang Segi Tiga Nyawa.”

“Sebaiknya kita segera saja menyelidik kesana.”

Wiro anggukkan kepala. Dia menolong Kunti Ambiri berdiri. Hanya sekejapan lagi kedua orang berkepandaian tinggi itu akan siap mengamblaskan diri masuk ke dalam tanah tiba-tiba terdengar bunyi bergemuruh. Lalu ada bunyi tiga jeritan keras. Tanah di samping kanan pohon terbongkar besar kemudian brakkk! Tiga sosok terkapar di tanah!

Wiro melengak kaget.

Kunti Ambiri menjerit.

Tiga sosok itu yaitu Ratu Randang, Sakuntaladewi dan Jaka Pesolek!

Ketiganya dalam keadaan setengah pingsan. Sekujur tubuh mulai dari kepala hingga ke kaki tertutup tanah dan debu berwarna merah.SEBELASTAK berapa lama sehabis Pendekar 212 Wiro Sableng meninggalkan Ruang Segi Tiga Nyawa, Empu Semirang Biru berhasil membujuk Jaka Pesolek dan Sakuntaladewi supaya tidak pergi menyusul Wiro.

“Sahabatku,” berbisik Sakuntaladewi.

“Ada apa?” Tanya Jaka Pesolek.

“Tidakkah kamu memperhatikan … ?”

“Dewi Kaki Tunggal, kamu ini bicara sepotong-sepotong. Apa yang tidak saya perhatikan?”

“Sssttt, bicara pelan-pelan. Jangan hingga terdengar kakek itu. Apa kamu tidak memperhatikan kalau bunyi sang Empu sedikit agak berubah. Pertama kali suaranya halus tapi beberapa dikala belakangan ini berubah agak parau dan keras.”

Yang bicara yaitu Ratu Randang dan Sakuntaladewi membenarkan ucapan si nenek dengan anggukkan kepala.

“Hal begitu saja jadi perhatianmu. Lebih baik kita cepat-cepat mengambil keris. Begitu urusan selesai kita cepat-cepat pergi dari sini.” Jaka Pesolek kemudian berpaling pada Empu Semirang Biru. “Empu, kami berdua siap mengambil keris di atas atap.”

“Lakukanlah. Raja Mataram tidak akan melupakan baktimu pada Kerajaan.

Aku akan melindungi perjuangan kalian supaya tidak ada roh jahat yang menghalangi.”

Empu Semirang Biru menjawab kemudian meniup ke arah kedua kakinya sendiri.

Kemudian kepala diangkat sedikit. Tiupan diarahkan ke lantai ruangan, terus naik ke dinding dan terus naik lagi menuju atap dimana Keris Kanjeng Sepuh Pelangi menancap.

“Jaka, kamu sudah siap?”Bertanya Sakuntaladewi.

Tidak mirip biasa selalu girang kalau akan menghadapi dan menangkap petir, sekali ini Jaka Pesolek tampak agak tegang. Gadis ini kemudian mengangguk.

“Jaka,jangan tegang. Kau niscaya bisa menangkap petir yang keluar dari keris sakti. Kalau berhasil saya berikan kamu sepuluh ciuman!”Ratu Randang memberi semangat tapi dengan cara bergurau.

Sakuntaladewi memberi instruksi bahwa beliau siap untuk melompat ke atas atap ruangan. Tapi Jaka Pesolek balas memberi instruksi sambil berkata.

“Jangan kamu yang melompat lebih dulu. Biar akuyang memancing. Aku akan melompat ke atap. Begitu petir keluar dari dalam keris, saya akan membuntal dan kamu akan kondusif pergunakan kesempatan cepat-cepat melesat ke atas mengambil keris.”

Sakuntaladewi dalam hati memuji kecerdikan Jaka Pesolek kemudian memberi tanda supaya gadis yang mengaku bisa jantan bisa betina itu segera melompat ke atap.

Sebelum melompat Jaka Pesolek melirik ke arah Empu Semirang Biru. Orang renta ini tampak tegang.

Jaka Pesolek jejakkan dua kaki ke lantai ruangan.

“Wuttt!”

Tubuh Jaka Pesolek melesat ke atas atap setinggi empat tombak. Kurang satu tombak tubuhnya melayang dalam ruangan tiba-tiba Keris Kanjeng Sepuh Pelangi pancarkan cahaya sembilan warna, dikelilingi cahaya biru. Setelah itu terdengar ledakan laksana petir benar-benar menggelegar. Cahaya putih menyilaukan dan panas berkiblat menyambar ke bawah, ke arah Jaka. Pesolek. Seantero ruangan menjadi panas luar biasa! Jaka Pesolek menyambut hantaman petir dengan berteriak keras. Dua tangan dikembang! Dess! Dess! Dua tangan si gadis begitu bersentuhan dengan cahaya putih pribadi membuat gerakan memiting. Cahaya putih dibuntal mirip menggulung sebuah pita raksasa kemudian beliau melayang turun ke lantai ruangan, membawa gulungan petir dan menghenyakkannya di salah satu sudut, menahan dengan kedua lutut.

“Petir jejadian! Mana bisa lebih hebat dari petir sungguhan ciptaan Yang Maha Kuasa! Petir jejadian jangan berani bercanda dengan saya Jaka Pesolek! Hik … hik … hik!”

Kini Jaka Pesolek bisa tertawa tawa. Buntalan petir yang tadi putih panas menyilaukan perlahan lahan berubah redup dan mengecil. Sebaliknya seluruh pakaian dan sekujur tubuh Jaka Pesolek tampak diselubungi lapisan berwarna merah, mirip bara mengepul hawa panas!

Ketika Jaka Pesolek berhasil menangkap dan menggulung petir yang keluar dari tubuh Keris Kanjeng Sepuh Pelangi dan mengamankan petir di sudut ruangan, secepat kilat Sakuntaladewi jejakkan kakinya yang hanya satu ke lantai ruangan.

“Wusss!”

Tubuh gadis itu melesat membal ke atas atap ruangan dimana Keris Kanjeng Seputi Pelangi menancap. Tangan kanan berkelebat cepat, menangkap tubuh keris kemudian menarik senjata ini dari kayu keras tempatnya menancap! Ketika tangan kanannya menyentuh keris sakti, Sakuntaladewi merasa ada hawa masbodoh masuk ke dalam tubuhnya yang membuat tengkuknya merinding. Dengan cepat gadis ini melayang turun ke bawah Sakuntaladewi sambil membuat gerakan jungkir balik satu kali. Tubuhnya meluncur sebat dan dalam bilangan kejapan mata saja beliau sudah berdiri kembali di lantai ruangan.

“Jaka! Ratu! Kita berhasil!” Teriak Sakuntaladewigirang.

Jaka Pesolek tidak menjawab lantaran dikala itu beliau tengah berusaha merontokkan lapisan merah panas yang menyelubungi dirinya sementara dua kaki masih terus menahan buntalan petir yang semakin mengecil dan kesannya lenyap dalam bentuk kepulan asap.

Ratu Randang cepat memeluk Sakuntaladewi.

“Kau gadis hebat! Sekarang lekas minta tolong pada Empu itu bagaimana caranya menyembuhkan dirimu. Mengembalikan kakimu yang satu jadi dua lagi.”

Kedua orang itu kemudian mendatangi Empu Semirang Biru yang semenjak tadi sudah tidak sabaran. Dari sela-sela libatan rantai besi merah beliau menggerakkan tangan memberi isyarat.

“Sakuntaladewi, lekas putuskan rantai besi yangmelibat diriku. Hanya Keris Kanjeng Sepuh Pelangi yang bisa menghancurkan Rantai Kepala Arwah Kaki Roh! Setelah saya bebas, saya akan segera akan menolong dirimu.”

Ratu Randang perhatikan perilaku Empu Semirang Biru yang sama sekali tidak memperlihatkan atau memanjatkan puji syukur pada Yang Maha Kuasa atas telah didapatnya keris sakti itu. Padahal sebelumnya beliau banyak mengucap. Menyebut Para Dewa, menyeru Yang Maha Kuasa. Si kakek tampaknya lebih mementingkan dan mendahulukan keselamatan diri sendiri.

Diikuti Ratu Randang, Sakuntaladewi melangkah mendekati Empu Semirang Biru. Keris sesaat dipentang di depan wajah orang renta itu yang memandang dengan mata berkilat-kilat.

“Laksanakan sekarang!” Kata Empu Semirang Biru dengan bunyi parau bergetar.

Sakuntaladewi angkat tangannya yang memegang keris lebih tinggi. Lalu tangan itu dibabatkan ke bawah.

“Traangg!”

Bunga api merah berpijar terang.

Ruang Segi Tiga Nyawa bergoncang!

Rantai besi merah di kepingan pundak kanan Empu Semirang Biru putus berkerontangan. Tubuh sang Empu terlonjak.

“Teruskan! Putuskan semuanya!”Teriak Empu Semirang Biru bersemangat.


Sakuntaladewi kembali membabatkan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi hingga dalam Ruang Segi Tiga Nyawa terdengar bunyi berdentrangan berulang kali disertai memijarnya percikan terang bunga api. Rantai Kepala Arwah Kaki Roh putus di enam bagian, luruh jatuh ke lantai dengan bunyi berkerontang dahsyat!


Ruang Segi Tiga Nyawa kembali bergoncang..
TEMUKAN CERITA WIRO SABLENG DISII

 Digital Marketing SMM Panel Spotify Bot Instagram Verified

Komentar

News Feed